BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Penerapan Indonesia Game Rating System (IGRS) tengah menjadi sorotan publik terutama para gamers setelah memicu kehebohan di sosial media dalam minggu terakhir. Menyikapi hal ini, Komdigi mengundang perwakilan developer game Indonesia bersama Asosiasi Game Indonesia (AGI) untuk bertemu pada 8 April 2026.
Pertemuan tersebut membahas permasalah mengenai penerapan sistem IGRS, terutama mengenai label Refused Classification (RC) yang dinilai menimbulkan keresahan pada para gamers serta kalangan pelaku industri game lokal.
Di forum tersebut, sejumlah perwakilan dari gamedev Indonesia seperti Kris Antoni dari Toge Productions dan dengan developer game lain mempertanyakan kejelasan sistem IGRS, khususnya pada penerapan label RC. Label ini sebelumnya viral di sosial media, di mana game-game yang terkena label RC mendapatkan keterangan “Not Fit For Distribution”.
Kris Antoni melalui akun pribadi sosial media X nya menyampaikan bahwa pertemuan dengan Komdigi tersebut membahas berbagai isu, mulai dari keresahan rating, sistem klasifikasi game dan dampak sistem IGRS terhadap industri game lokal.
Ia berharap pertemuan dengan Komdigi tersebut dapat memberikan dampak baik terhadap perkembangan sistem IGRS selanjutnya.
Baca Juga:
Steam Ngaku Salah Sistem IGRS, Bikin Bingung Gamers Indonesia
Sistem IGRS di Steam Menghilang, Penilaian Game Kembali Gunakan PEGI
Sebelumnya, banyak gamers dan developer game lokal dibuat kebingungan karena banyaknya game yang mendapatkan rating yang tidak sesuai dengan genre. Beberapa game yang seharusnya tidak boleh dimainkan oleh anak-anak malah mendapatkan rating 3+, sedangkan game yang boleh dimainkan oleh anak-anak malah diberikan rating 18+ .
Menanggapi hal ini, Adam Ardisasmita dari Arsanesia menjelaskan bahwa sebeneranya komunikasi antara pihak Steam dan Komdigi telah berlangsung sejak dua tahun lalu. Namun, masalah muncul karena belum semua game di Steam mengisi kuisioner klasifikasi yang menjadi dasar penilaian.
Menurutnya, sistem rating global seperti ESRB dan PEGI digabung dalam satu kuisioner yang harus diisi oleh para developer. Sayangnya, penerapan sistem ini masih tergolong baru di Steam, sehingga banyak game lama belum memiliki data yang diperlukan. Akibatnya, game-game tersebut secara otomatis mendapatkan label RC, termasuk di Indonesia.
Selain itu, sistem IGRS yang masih dalam tahap penyesuaian diketahui sudah terlanjur muncul di publik. hal ini semakin membuat kebingungan di kalangan para gamers dan game developer.
meskipun sudah mendapatkan penjelasan mengenai sistem IGRS tersebut, para gamers dan game developers masih merasa khawatir. Dalam forum diskusi tersebut, Komdigi menjelaskan bahwa pemblokiran konten atau game tidak bisa dilakukan secara sembarangan dan harus melalui proses pertimbangan.
Namun, penggunaan label RC dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dikarenakan di beberapa negara, label tersebut identik dengan game yang diblokir. Para game developer pun menyarankan untuk ada nya penyesuaian label, misalnya untuk menandai game tersebut sedang dalam proses penilaian dan tidak langsung di cap “Not Fit For Distribution”
(Magang Unpas / Rahmadani)











