JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Ribuan buruh yang tergabung dalam Aliansi Federasi Serikat Pekerja Buruh se-Jakarta memadati kawasan Balai Kota, Senin (17/11/2025). Mereka mendesak Gubernur Jakarta, Pramono Anung menaikkan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2026 menjadi Rp6 juta.
Aksi ini bermula dari keresahan buruh terhadap tekanan inflasi, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta kondisi ekonomi yang dinilai membuat daya beli pekerja terus melemah.
Mereka menegaskan bahwa kenaikan UMP bukan sekadar tuntutan rutin, tapi kebutuhan mendesak agar buruh bisa hidup layak di Jakarta.
Tuntutan UMP dan UMSP
Selain menuntut kenaikan UMP, massa aksi juga meminta Pemerintah Provinsi Jakarta kembali menetapkan Upah Minimum Sektoral Provinsi (UMSP).
Mereka mendesak agar UMSP dipatok minimal 5% lebih tinggi dari UMP, menyesuaikan tingkat risiko pekerjaan dan kemampuan produktivitas di tiap sektor industri.
Di sisi lain, buruh mendesak revisi Keputusan Gubernur No. 130 Tahun 2022 yang mengatur struktur dan skala upah. Aturan tersebut dinilai tidak melindungi pekerja yang sudah loyal bertahun-tahun.
Para buruh meminta agar pekerja dengan masa kerja minimal satu tahun mendapatkan upah setidaknya 5% di atas UMP atau UMSP.
Suara Buruh: Kami Menuntut Upah yang Layak
Bambang, Korwil Jakarta KSBSI mengatakan, bahwa buruh tidak hanya menuntut kenaikan nominal, melainkan upah yang benar-benar layak untuk hidup di Jakarta.
“Masih banyak buruh yang digaji di bawah standar, banyak juga pemagangan yang tidak jelas statusnya. Kami datang untuk menuntut kelayakan, bukan sekadar angka. Jika Gubernur berani menaikkan UMP secara layak, kami siap mendukung,” kata Bambang.
Baca Juga:
Menaker Bakal Umumkan UMP 2026 pada 21 November, Cek Bocorannya
Pemerintah Bahas Kenaikan UMP 2026, Menaker Pastikan Sesuai Putusan MK
Buruh Menunggu Gubernur Muncul di Depan Massa
Ketua Perda KSPI Jakarta, Winarso menegaskan, bahwa massa aksi menuntut bertemu langsung dengan Gubernur Pramono Anung.
“Banyak kawan-kawan yang digaji di bawah UMP dan tidak kunjung diangkat tetap meski sudah bekerja bertahun-tahun. Kalau tidak ditemui hari ini, kami tidak akan bubar,” ujarnya tegas.
Aksi besar ini membuat Jalan Medan Merdeka Selatan dari arah Gambir menuju Patung Kuda ditutup total. Polisi melakukan rekayasa arus dan pengalihan kendaraan untuk mencegah kemacetan lebih parah.
Sementara itu, massa buruh memilih bertahan dan menegaskan tidak akan meninggalkan Balai Kota sebelum mendapatkan jawaban dari Gubernur Jakarta.
(Dist)











