JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – Sektor pariwisata Indonesia mulai merasakan tekanan serius akibat perang Iran vs Amerika Serikat-Israel. Jalur penerbangan internasional terganggu, biaya perjalanan melonjak, dan arus wisatawan mancanegara terancam menyusut drastis.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut, eskalasi konflik Iran–Israel serta keterlibatan Amerika Serikat telah memukul salah satu jalur utama pergerakan turis dunia yakni kawasan Timur Tengah.
Selama ini, Timur Tengah menjadi simpul penting penerbangan jarak jauh dari Eropa dan Amerika menuju Indonesia. Ketika jalur itu terganggu, efeknya langsung terasa.
Ribuan Wisman Berpotensi Hilang Setiap Hari
Pemerintah memperkirakan penurunan kunjungan wisatawan mancanegara bisa mencapai 4.700 hingga 5.500 orang per hari.
Angka ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan potensi kehilangan pasar wisata berdaya beli tinggi.
“Potensi dampak terhadap kunjungan wisman cukup signifikan,” kata Widiyanti.
Penurunan ini terutama berasal dari pasar Eropa, Timur Tengah, dan Amerika yang merupakan segmen wisatawan yang selama ini dikenal sebagai penyumbang devisa terbesar.
Devisa Terancam Terkikis Cepat
Jika situasi ini berlarut, dampaknya terhadap ekonomi tidak kecil. Pemerintah menghitung potensi kehilangan devisa berada di kisaran Rp157,9 miliar hingga Rp184,8 miliar per hari
Padahal, tren pariwisata Indonesia tengah berada di fase positif. Sepanjang 2025, tercatat mencapai 15,39 juta kunjungan wisman dengan Devisa hingga 18,27 miliar dolar AS
Ironisnya meski hanya menyumbang 21,7 persen kunjungan, pasar Eropa dan Amerika justru memberi 34,7 persen devisa yang menjadi indikasi kuat tingginya nilai belanja wisatawan dari kawasan tersebut.
Jalur Udara Terganggu, Biaya Melonjak
Dampak konflik tidak berhenti pada jumlah wisatawan. Gangguan operasional maskapai menjadi faktor krusial seperti pengalihan rute penerbangan, waktu tempuh lebih panjang, hiingga harga tiket melonjak akibat bahan bakar.
Kondisi ini membuat Indonesia kehilangan daya saing sebagai destinasi, terutama bagi wisatawan jarak jauh.
Pemerintah Siapkan 5 Jurus Bertahan
Menghadapi tekanan tersebut, Kementerian Pariwisata menyiapkan lima langkah cepat:
- Diversifikasi pasar ke Asia Tenggara, Asia Timur, Australia, dan India
- Optimalisasi penerbangan langsung, termasuk rute Eropa oleh Garuda Indonesia
- Penguatan promosi digital berbasis data
- Mendorong wisata domestik sebagai penopang
- Menggenjot event pariwisata, terutama di wilayah perbatasan
Langkah ini dirancang untuk menutup celah penurunan dari pasar jarak jauh.
Peluang dari Asia Timur Mulai Terbuka
Di tengah tekanan, ada celah yang mulai terbuka. Maskapai seperti China Airlines, Spring Airlines, dan China Southern Airlines berencana menambah frekuensi penerbangan ke Indonesia mulai Mei 2026.
Pasar Asia Timur dinilai lebih stabil secara konektivitas dan berpotensi menjadi penopang baru.
Baca Juga:
Komisi VIII DPR Soroti Risiko Biaya Haji 2026 Melonjak akibat Konflik Iran-AS–Israel
WNA Overstay di Bali Dapat Izin Tinggal Darurat Imbas Perang Iran-AS-Irael
Situasi ini menjadi ujian bagi daya tahan sektor pariwisata nasional. Ketergantungan pada jalur global yang rentan konflik kini menjadi titik lemah yang harus segera diantisipasi.
“Strategi yang adaptif dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci,” tegas Widiyanti.
(Dist)











