Bank Dunia Akui Ekonomi Indonesia Tangguh di Tengah Konflik Geopolitik

ekonomi indonesia
Ilustrasi. (Freepik)
-

Tidak ada video disisipkan.

JAKARTA, TEROPONGEMDIA.ID — Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 4,7%, turun tipis dari estimasi sebelumnya.

Namun, revisi ini tidak serta-merta melemahkan posisi Indonesia. Angka tersebut masih berada di atas rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik yang diperkirakan hanya tumbuh 4,2%.

Tekanan Global Jadi Faktor Penentu

Kepala Ekonom Bank Dunia kawasan Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, menegaskan bahwa arah ekonomi ke depan sangat ditentukan oleh dinamika global.

“Kami menilai Indonesia relatif tangguh,” ujarnya.

Meski demikian, tekanan dari konflik geopolitik, pembatasan perdagangan, serta disrupsi teknologi tetap menjadi variabel yang sulit dihindari.

Ketahanan Energi Jadi Bantalan

Salah satu faktor yang menjaga stabilitas Indonesia adalah rendahnya ketergantungan terhadap impor energi.

Dengan impor minyak dan gas hanya sekitar 1% dari PDB, Indonesia memiliki bantalan yang lebih kuat dibanding sejumlah negara kawasan.

Namun, bantalan ini bukan tanpa batas. Kenaikan harga energi tetap berpotensi menekan fiskal melalui subsidi dan kompensasi.

Inflasi dan Investasi di Bawah Tekanan

Dampak lanjutan mulai terlihat pada potensi inflasi dan aktivitas ekonomi.

Kenaikan harga minyak, pupuk, hingga komponen teknologi berisiko mendorong biaya produksi dan harga barang. Pada saat yang sama, sentimen risiko global berpotensi menahan investasi dan konsumsi.

Kombinasi ini membuat ruang pertumbuhan menjadi lebih sempit.

Peluang Pemulihan Masih Terbuka

Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia akan kembali menguat pada 2027 dengan pertumbuhan sekitar 5,2%.

Penguatan ini diperkirakan ditopang oleh investasi, ekspansi kredit, serta kelanjutan program hilirisasi yang mendorong nilai tambah industri.

Baca Juga:

Purbaya Sorot Puluhan Ribu Motor BGN, Pernah Ditolak!

OJK Siaga! Perang Iran Picu Ancaman ke Sektor Keuangan RI

Dalam jangka menengah, kualitas pertumbuhan akan sangat bergantung pada reformasi struktural.

Penyederhanaan regulasi, perbaikan iklim investasi, dan efisiensi sektor jasa menjadi faktor kunci untuk menjaga momentum ekonomi.

Tanpa perbaikan tersebut, pertumbuhan berisiko stagnan di tengah tekanan global yang semakin kompleks.

(Dist)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

2

AC Milan Bawa Pulang Kemenangan Setelah Taklukan Como 2-1

3

Cegah Zoonosis, Pemkot Bandung Gelar Vaksinasi Hingga Sterilisasi Hewan Peliharaan Gratis di Kelurahan Ciumbuleuit

4

Studio Alam Gamplong, Destinasi Perfilman Favorit di Sleman

5

6 Daftar Wisata, Dulu Favorit Sekarang Ditinggal Pengunjung
Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City