JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Pemerintah merespon keras ancaman Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump terkait penutupan Selat Hormuz.
Sebelumnya, Trump menyatakan AS siap melancarkan serangan 20 kali lebih kuat jika penutupan jalur vital distribusi minyak dunia tersebut terus dilakukan.
Ancaman tersebut disampaikan Trump melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Senin (9/3/2026) malam.
“Mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat dua puluh kali lebih keras daripada yang telah mereka alami sejauh ini,” tulis Trump.
Trump juga memperingatkan bahwa serangan tersebut dapat menghancurkan kemampuan Iran untuk membangun kembali negaranya.
“Kematian, api, dan amarah akan menimpa mereka – tetapi saya berharap dan berdoa itu tidak terjadi,” tulisnya.
Iran Balas Ancaman Trump
Ancaman tersebut langsung mendapat respons dari pejabat tinggi Iran. Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, menyampaikan peringatan keras kepada Trump.
Melalui akun X miliknya, Larijani menyatakan rakyat Iran tidak takut terhadap ancaman dari Amerika Serikat.
“Rakyat Iran yang mencintai Asyura tidak takut akan ancaman kosong Anda; karena mereka yang lebih hebat dari Anda pun gagal menghapusnya,” tulis Larijani dikutip middleeasteye.net, Rabu (11/3/2026)
Ia juga memperingatkan agar Trump berhati-hati agar tidak bernasib sama dengan pihak-pihak yang sebelumnya gagal menundukkan Iran.
“Jadi waspadalah jangan sampai Anda menjadi orang-orang yang lenyap,” tegasnya.
Selat Hormuz Disebut Bisa Jadi Jalur Perdamaian atau Konflik
Larijani menegaskan masa depan Selat Hormuz akan bergantung pada sikap negara-negara yang terlibat dalam konflik.
“Selat Hormuz akan menjadi selat perdamaian dan kemakmuran bagi semua atau akan menjadi selat kekalahan dan penderitaan bagi para penghasut perang,” katanya.
Ia juga menegaskan Iran akan tetap mempertahankan kebijakan menutup selat tersebut jika serangan dari Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut.
Situasi semakin kompleks setelah laporan bahwa Prancis mengirimkan dua fregat ke Laut Merah untuk membantu membuka kembali jalur perdagangan tersebut.
Namun, Larijani menyatakan pesimis keamanan di kawasan itu bisa tercapai jika konflik terus meningkat.
“Kemungkinan besar keamanan tidak akan tercapai di Selat Hormuz di tengah kobaran api yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel di wilayah tersebut,” ujarnya.
Baca Juga:
Korea Utara Dukung Penuh Iran Dipimpin Mojtaba Khamenei, Kecam AS-Israel!
Dua Kapal Pertamina Masih Tertahan di Teluk Arab, Bahlil: Negosiasi Segera Tuntas
Selat Hormuz Jalur Vital Perdagangan Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur maritim sempit yang berada di antara Iran dan Semenanjung Musandam di Oman.
Selat ini dikenal sebagai titik paling vital dalam perdagangan minyak dunia.
Beberapa fakta penting mengenai Selat Hormuz:
- Lebar sekitar 33 kilometer di titik tersempit
- Sekitar 20 juta barel minyak melewati selat ini setiap hari
- Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur ini
- Sepertiga perdagangan gas alam cair (LNG) dunia juga melalui selat tersebut
Banyak negara Asia sangat bergantung pada jalur ini untuk pasokan energi.
Misalnya:
- Korea Selatan mengimpor sekitar 70 persen minyaknya dari Timur Tengah
- Jepang sekitar 90 persen
- India sekitar 50 persen
Penutupan Selat Hormuz bahkan sempat memicu penurunan indeks pasar saham di kawasan Asia.
(Dist)










