BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Aroma malam panas dan lilin cair menyambut setiap wisatawan yang melangkah ke galeri perajin di Desa Krebet. Di ruang sederhana yang hangat oleh aktivitas tangan-tangan terampil, proses membatik kayu bukan sekadar pertunjukan, melainkan pengalaman yang mengajak siapa pun untuk ikut terlibat.
Di sini, wisatawan tak hanya menjadi penonton. Mereka duduk berjejer, mengenakan celemek pelindung, memegang canting, dan perlahan menorehkan malam di atas media kayu, seperti topeng atau wayang yang telah disiapkan. Tak perlu cemas bagi pemula. Para perajin lokal dengan sabar membimbing setiap langkah, mulai dari menggambar motif, mengatur alur malam, hingga memberi warna yang perlahan menghidupkan permukaan kayu.
Dengan biaya yang terjangkau, antara Rp30.000 hingga Rp85.000 sesuai ukuran media, seluruh perlengkapan telah disediakan. Kompor kecil dengan lilin panas, canting, peralatan membatik, hingga perlengkapan keselamatan tersedia lengkap. Sembari bekerja, wisatawan disuguhi camilan dan segelas legen segar, menambah hangat suasana belajar yang akrab dan bersahaja.
Baca Juga:
Tawaran Pesona Alam Tradisional dari Kampung Naga Tasikmalaya
Waktu seakan berjalan lebih pelan di Krebet. Setiap goresan malam menjadi jeda dari rutinitas, memberi ruang untuk menikmati proses dan cerita di balik seni batik kayu yang telah diwariskan turun-temurun. Ketika kegiatan usai, karya yang dihasilkan pun boleh dibawa pulang, bukan sekadar buah tangan, melainkan kenangan yang tercetak dalam bentuk dan warna.
Pariwisata yang tumbuh di Krebet tak berhenti di ruang galeri. Kehadiran wisatawan turut menghidupkan denyut ekonomi desa. Rumah-rumah warga beralih fungsi menjadi homestay, warung kecil ramai oleh obrolan tamu, dan kerajinan lokal menemukan pasar yang lebih luas. Di Krebet, wisata bukan hanya tentang berkunjung, tetapi tentang menyatu, belajar, berbagi dan pulang membawa cerita.
(Budis)











