Di Balik Parit dan Tangga Batu Kampung Naga, Tradisi Sunda Tetap Hidup

Kampung Naga
Kampung Naga (Foto: Pemkab Tasikmalaya).
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Langkah kaki pengunjung akan melambat begitu sampai di bibir tangga Kampung Adat Naga. Dari atas, ratusan anak tangga batu menurun tajam ke sebuah lembah hijau yang seolah terpisah dari dunia luar. Sebanyak 444 anak tangga harus ditapaki untuk benar-benar memasuki kampung kecil seluas 1,5 hektare ini, sebuah perjalanan fisik sekaligus batin sebelum bertemu kehidupan yang berjalan dengan ritme berbeda.

Di bawah sana, Kampung Adat Naga terhampar tenang di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Dikelilingi parit kecil dan pepohonan rimbun, kampung ini seperti pulau tradisi di tengah arus modernisasi desa-desa sekitarnya. Meski jaraknya hanya sepelemparan batu dari jalan utama dan rumah-rumah modern, waktu seolah berhenti di Kampung Naga.

Tidak ada kabel listrik yang melintang di udara. Tidak terdengar dengung mesin atau cahaya lampu neon di malam hari. Warga Kampung Naga memilih hidup sederhana, mengandalkan cahaya alami di siang hari dan lampu tradisional di malam hari. Di dapur-dapur rumah panggung, asap kayu bakar mengepul perlahan, menandai aktivitas memasak yang masih setia pada cara lama.

Sebanyak 111 bangunan berdiri seragam, seluruhnya terbuat dari kayu albasia. Atapnya sederhana, dindingnya bersahaja, dan semuanya menghadap arah yang sama, Timur-Barat dengan pintu menghadap Utara atau Selatan. Tidak ada rumah yang ingin menonjol sendiri. Di Kampung Naga, keseragaman adalah bentuk harmoni.

Bagi masyarakat Kampung Naga, rumah bukan sekadar tempat berlindung, melainkan gambaran tubuh manusia. Atap diibaratkan sebagai kepala, pusat pikiran dan kebijaksanaan tempat menyimpan barang-barang penting keluarga. Ruang tengah menjadi badan, pusat kehidupan tempat anggota keluarga berkumpul, beristirahat, dan berbagi cerita. Sementara bagian bawah rumah, yang difungsikan sebagai kandang ayam, dianalogikan sebagai kaki yang menopang kehidupan.

Baca Juga:

Desa Meteseh Ubah Sampah Lewat Inovasi Alat ‘Insana’

Di tengah kampung, berdiri tiga bangunan sakral yang menjadi denyut kehidupan adat. Pasolatan menjadi ruang spiritual, tempat warga menautkan doa dan ritual kepada Sang Pencipta. Lumbung berdiri sebagai simbol ketahanan pangan, menyimpan hasil panen yang diatur dengan bijak agar cukup hingga musim berikutnya. Sementara Bumi Ageng berfungsi sebagai pusat musyawarah adat, tempat keputusan penting kampung diambil oleh para tetua.

Masyarakat Kampung Naga bukan komunitas besar, hanya 102 kepala keluarga dengan 287 jiwa, namun ikatan sosial mereka begitu kuat. Mayoritas hidup sebagai petani sawah dan ladang, mengolah tanah dengan cara yang diwariskan turun-temurun. Mereka juga membuat kerajinan tangan tradisional, bukan sekadar untuk ekonomi, tetapi sebagai bagian dari menjaga identitas.

Kepemimpinan adat dipegang oleh Kuncen, sosok penjaga tradisi yang memastikan setiap aturan leluhur tetap dijalankan. Di bawahnya, Lebeh bertanggung jawab atas kehidupan keagamaan, sementara Punduh Adat mengatur tata krama dan perilaku masyarakat. Meski demikian, Kampung Naga tetap mengakui struktur pemerintahan modern seperti RT dan RW, sebuah bukti bahwa tradisi dan negara bisa berjalan berdampingan.

Salah satu ekspresi budaya yang paling hidup di Kampung Naga adalah Terbang Sejak. Pertunjukan musik tradisional ini menghadirkan bunyi kempling, bangsing, gedembung, tuluktuk, bajidor, dan indung yang berpadu ritmis. Irama tabuhan mengalir pelan, mengiringi nyanyian yang sarat petuah leluhur. Tidak ada panggung megah, hanya ruang terbuka dan tarian bebas yang mengikuti alunan musik, sederhana, jujur, dan penuh makna.

Bagi warga Kampung Naga, alam bukan sekadar tempat tinggal, melainkan entitas yang hidup dan harus dihormati. Mereka meyakini alam bersifat rahman dan rahim, pengasih dan penyayang. Bencana, menurut keyakinan mereka, adalah akibat dari manusia yang melampaui batas.

Prinsip itu tercermin dalam sistem pertanian. Padi lokal hanya ditanam dua kali setahun, memberi tanah waktu untuk beristirahat. Setelah panen, jeda satu hingga dua bulan sengaja dibiarkan agar tunas padi yang tumbuh menjadi “makanan” bagi hama, sebelum musim tanam berikutnya dimulai. Sebuah cara lama yang lahir dari pemahaman mendalam tentang keseimbangan ekosistem.

Hutan larangan dan hutan keramat dijaga dengan ketat. Tidak seorang pun boleh mengambil apapun dari sana, bahkan mempublikasikannya ke luar. Pelanggaran atas aturan adat bukan perkara ringan, sanksi pengasingan dan pembongkaran rumah menanti mereka yang melanggar.

Menjelajah Kampung Adat Naga bukan sekadar perjalanan wisata. Ia adalah pengalaman menyelami cara hidup yang menolak terburu-buru, memilih keseimbangan, dan memuliakan warisan leluhur. Di kampung kecil ini, kesederhanaan bukan keterbatasan, melainkan pilihan hidup yang dijaga dengan penuh kesadaran, sebuah pelajaran sunyi tentang bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan alam dan tradisi, tanpa kehilangan jati diri.

(Budis)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
Gensinimpact
Genshin Impact Account: Faktor yang Membentuk Akun Kuat di Era Modern Teyvat
Euro 2024
Prediksi Skor Belgia vs Tunisia, Setan Merah Incar Modal Positif Jelang Piala Dunia
Wujudkan Semangat Connecting Happiness, JNE Raih Penghargaan di Indonesia CSR Awards 2026
Wujudkan Semangat Connecting Happiness, JNE Raih Penghargaan di Indonesia CSR Awards 2026
KDS Perusahaan Tak Peduli Lingkungan Bakal Disegel Demi Penanganan Banjir Tegalluar
KDS: Perusahaan Tak Peduli Lingkungan Bakal Disegel Demi Penanganan Banjir Tegalluar
339 UMKM Ramaikan Pasar Kreatif Bandung 2026, Etalase Produk Lokal di 8 Mal
339 UMKM Ramaikan Pasar Kreatif Bandung 2026, Etalase Produk Lokal di 8 Mal
Berita Lainnya

1

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

2

Brace Cristiano Ronaldo Warnai Kemenangan Al Nassr atas Al Gharafa di Liga Champions Asia

3

Ribuan Atlet Jawa Barat Ikut Pengukuhan Pelatda PON XXI/2024

4

Profil Lengkap Budi Arie Menteri Komunikasi dan Informatika

5

Threads Melonjak Pesat, Jadi Penantang X Milik Elon Musk
Headline
Farhan Bandung Siap Jadi Kota Terdepan Implementasi AI Pelayanan Publik
Farhan: Bandung Siap Jadi Kota Terdepan Implementasi AI Pelayanan Publik
Darurat Sampah Tidak Disetujui, Pemkot Bandung Siapkan Solusi Mandiri
Darurat Sampah Tidak Disetujui, Pemkot Bandung Siapkan Solusi Mandiri
dadan
Geser Dadan Hindayana, Prabowo Tunjuk Naniek Deyang Jadi Kepala BGN yang Baru
Farhan Utamakan Stabilitas Pelayanan Publik dalam Penataan Kabel Udara
Farhan Utamakan Stabilitas Pelayanan Publik dalam Penataan Kabel Udara