BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Cuaca ekstrem kembali memakan korban di wilayah perairan Sumatera Utara. Dua kapal nelayan dilaporkan tenggelam akibat gelombang tinggi pada Minggu (23/11/2025), mengakibatkan tujuh nelayan hingga kini masih dinyatakan hilang.
Tim gabungan dari Kantor SAR Medan, kepolisian, dan unsur terkait terus mengerahkan upaya pencarian di tengah kondisi laut yang masih tidak bersahabat.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan, Hery Marantika, mengonfirmasi bahwa sebanyak 16 nelayan terlibat dalam dua peristiwa kecelakaan laut tersebut. Sembilan di antaranya berhasil selamat, sementara tujuh lainnya belum ditemukan.
“Saat ini sebanyak tujuh orang nelayan dari dua kapal tersebut masih dilakukan pencarian oleh tim gabungan,” ujar Hery, Selasa (25/11/2025).
Kejadian pertama terjadi di Perairan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara, pada Minggu sore sekitar pukul 17.00 WIB. Sebuah perahu nelayan dilaporkan terbalik usai dihantam gelombang tinggi secara tiba-tiba. Dalam situasi panik itu, sebagian awak kapal berhasil menyelamatkan diri, namun satu nelayan hilang terseret arus.
“Saat berada di perairan Tanjung Tiram, cuaca tiba-tiba memburuk dan gelombang tinggi menghantam perahu hingga terbalik. Rekan-rekan korban berhasil menyelamatkan diri, namun korban terbawa arus sebelum akhirnya menghilang dari pandangan,” jelas Hery.
Kondisi cuaca buruk yang datang mendadak tersebut menjadi penyebab utama terbaliknya perahu. Menurut laporan lapangan, gelombang tinggi datang dari arah laut lepas dan menghantam lambung perahu, membuatnya tidak stabil hingga terbalik.
Beberapa jam setelah kecelakaan pertama, insiden kedua terjadi di Perairan Kuala Tanjung, Kabupaten Asahan. KM Jaya Mandiri 5, kapal berukuran lebih besar dibandingkan perahu pertama, dilaporkan karam pada Minggu malam sekitar pukul 23.00 WIB. Enam awak kapal (ABK) belum ditemukan hingga kini.
“Tim gabungan melakukan pencarian terhadap enam orang ABK KM Jaya Mandiri 5 yang karam pasca melaut di sekitar Perairan Kuala Tanjung Balai Asahan,” papar Hery.
Belum diketahui pasti penyebab kapal karam, namun dugaan sementara mengarah pada kondisi cuaca ekstrem berupa gelombang tinggi dan angin kencang yang menyerang kawasan tersebut sepanjang akhir pekan.
Baca Juga:
Kronologi Perahu Nelayan Hancur Diterjang Ombak Besar di Cipatujah
BMKG: Waspada Gelombang Tinggi di NTB
Sejak laporan pertama diterima, tim SAR gabungan telah mengerahkan personel dengan perahu karet, kapal cepat, hingga drone untuk menjangkau area yang lebih luas. Fokus pencarian dilakukan di permukaan laut serta jalur yang berpotensi dilalui arus kuat, mengingat korban dapat terbawa hingga beberapa mil dari lokasi kejadian.
Hery menyebutkan bahwa kondisi cuaca masih menjadi tantangan besar bagi tim di lapangan.
“Seluruh unsur SAR terus bekerja untuk melakukan penyisiran, baik di permukaan maupun kemungkinan korban terbawa arus lebih jauh,” ujarnya.
Pihaknya juga berkoordinasi dengan nelayan setempat untuk pengamatan tambahan jika ada tanda-tanda keberadaan korban di zona perairan yang tidak terjangkau tim SAR.
Hery mengimbau masyarakat pesisir dan nelayan untuk selalu memperhatikan informasi cuaca sebelum memutuskan melaut. Cuaca di wilayah barat Indonesia saat ini cenderung berubah cepat, dipengaruhi dinamika atmosfer dan potensi gelombang tinggi di beberapa titik perairan.
“Kami mengimbau para nelayan agar selalu memperhatikan kondisi cuaca. Keselamatan adalah yang utama. Gelombang tinggi dan arus kuat seperti beberapa hari terakhir sangat berisiko bagi aktivitas melaut,” pungkasnya.











