WASHINGTON, TEROPONGMEDIA.ID – Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kenegaraannya ke Amerika Serikat, Presiden menghadiri Business Summit yang diselenggarakan oleh US-ASEAN Business Council, dengan didampingi oleh sejumlah anggota Kabinet Merah Putih dan pengusaha terkemuka asal Indonesia.
Dalam pertemuan ini, Presiden menyaksikan penandatanganan 11 nota kesepahaman senilai 38,4 miliar dolar Amerika Serikat, yang merupakan bentuk kolaborasi sektor pemerintah dan swasta kedua negara di berbagai bidang, termasuk pertambangan, hilirisasi, energi, agribisnis, tekstil dan garmen, hingga manufaktur dan teknologi.
Nota kesepahaman ini diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi ke depan, memperluas penciptaan lapangan kerja, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Di hadapan para pengusaha Amerika Serikat, Prabowo menegaskan posisi Indonesia sebagai destinasi investasi yang menarik dan patut diperhitungkan oleh pelaku usaha global.
“Kami sangat terbuka dengan investasi. Kami butuh investasi dan kami ingin lebih banyak investasi. Kami yakin bahwa kami kompetitif dan menarik,” kata Presiden di acara Business Summit yang digelar di US Chamber of Commerce, Washington DC, Rabu (8/2/2026), dikutip dari Antara.
Di depan kelompok pengusaha AS, Presiden Prabowo mengatakan Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang tidak hanya melimpah, tetapi juga strategis.
Baca Juga:
Prabowo Temui Trump di Washington, Tarif Dagang dan Gaza Jadi Sorotan
Media Asing Sorot TNI-Polri Urus Pangan, Prabowo Bela Habis-habisan!
Namun, menurut Presiden, daya tarik investasi Indonesia tidak berhenti pada aspek tersebut. Kepala Negara menilai Indonesia saat ini tengah mendorong percepatan industrialisasi yang membuka peluang investasi baru di berbagai sektor.
Dari sisi sumber daya alam, kata Presiden Prabowo, Indonesia memiliki cadangan mineral kritis seperti nikel, tembaga, dan bauksit yang menjadi bahan baku penting bagi teknologi masa depan.
“Saya kira kami memiliki kekuatan di mineral kritis. Saya juga mendapat laporan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan cadangan tanah jarang terbesar di dunia,” katanya.
Sementara itu, dari sisi industrialisasi, Presiden Prabowo mengatakan Indonesia kini berfokus pada hilirisasi sumber daya alam.
Dicontohkan Presiden, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara akan menginisiasi 18 proyek hilirisasi tahun ini, termasuk proyek pengolahan sampah menjadi energi senilai Rp50,4 triliun atau setara 3 miliar dolar AS.
“Kami terus bergerak di hilirisasi industri, di mana Danantara menjadi motor penggerak utamanya. Kami bergerak sangat cepat di sektor-sektor tersebut,” katanya.
Berdasarkan potensi tersebut, Presiden Prabowo berharap perusahaan asal AS tidak hanya memandang Indonesia sebagai tujuan investasi yang menarik, tetapi juga sebagai basis produksi utama.
Presiden juga menekankan pentingnya melihat Indonesia sebagai mitra strategis di Asia Tenggara, mengingat skala ekonomi nasional yang besar.
Indonesia tetap berkomitmen menjaga iklim investasi melalui kepastian regulasi, penegakan hukum, serta tata kelola pemerintahan yang baik.
Menurut Kepala Negara, faktor-faktor tersebut menjadi kunci dalam menarik minat investasi asing.
“Bagi pemimpin bisnis, kepastian adalah hal paling utama. Tidak ada yang mau investasi di situasi atau atmosfer yang dipenuhi ketidakpastian, ketidakstabilan, atau bahkan kekacauan,” katanya.











