BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Inovasi mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui Revoplast tidak hanya menghadirkan produk fesyen ramah lingkungan, tetapi juga mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah plastik. Melalui pendekatan upcycling, limbah plastik sekali pakai disulap menjadi material baru yang bernilai guna dan ekonomi.
Revoplast digagas oleh tim mahasiswa lintas disiplin yang dipimpin Fajar Yulianto. Ia menuturkan, ide ini lahir dari kegelisahan melihat plastik kresek yang hanya digunakan sekali lalu menumpuk sebagai limbah.
“Plastik kresek itu dipakai sebentar, tapi dampaknya ke lingkungan sangat panjang. Kami ingin mengubah sesuatu yang dianggap tidak berguna menjadi produk yang punya nilai dan bisa dipakai kembali,” ujar Fajar dikutip dari laman Unesa, Kamis (18/12/2025).
Sampah-sampah tidak berakhir di tempat pembuangan, plastik-plastik tersebut dikumpulkan, dibersihkan, dan dipilah berdasarkan warna. Selanjutnya, bahan diproses melalui pengepresan hingga membentuk lembaran tebal dengan motif alami dari kombinasi warna plastik.
“Motif yang muncul itu tidak kami rekayasa. Justru dari situ muncul keunikan, karena setiap lembar dan setiap tas pasti berbeda,” kata Fajar.
Baca Juga:
Inovasi Mahasiswa UMM, Membuat Sirup Temulawak Pencegah Asam Urat
Lembaran hasil olahan kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk seperti tote bag, handbag, hingga sling bag. Keunikan visual menjadi daya tarik tersendiri sekaligus bukti bahwa limbah plastik bisa diolah menjadi produk fungsional dan estetis.
Namun, proses produksi bukan tanpa tantangan. Fajar mengakui material daur ulang memiliki karakter yang tidak selalu seragam.
“Ada bagian yang terlalu tipis atau malah bolong saat dipres. Itu membuat kami harus menyesuaikan desain dengan bahan, bukan sebaliknya,” tuturnya.
Meski begitu, Revoplast diklaim memiliki keunggulan dari sisi ketahanan dan fungsi. Produk bersifat tahan air, memiliki karakter visual khas, serta dipasarkan dengan harga terjangkau.
“Selain kualitas produk, kami membawa misi keberlanjutan. Revoplast sejalan dengan SDGs, terutama konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta aksi terhadap perubahan iklim,” jelas Fajar.
Ke depan, tim Revoplast berencana memperluas lini produk ke berbagai aksesori lain, sekaligus membangun ekosistem produksi berkelanjutan.
“Kami sedang menyiapkan peningkatan alat produksi, memperluas pemasaran lewat e-commerce dan reseller, serta merancang program take-back agar produk yang sudah tidak terpakai bisa diolah kembali,” ungkapnya.
Menurut Fajar, Revoplast diharapkan tidak berhenti sebagai produk inovasi mahasiswa, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial-lingkungan.
“Kami ingin Revoplast menjadi contoh bahwa inovasi kecil bisa memberi dampak besar, tidak hanya untuk ekonomi, tetapi juga untuk masa depan lingkungan,” pungkasnya.
(Budis)











