Persoalan sampah plastik masih menjadi tantangan serius di banyak daerah, termasuk di Nagari Koto Laweh, Kecamatan Lembang Jaya. Sampah yang menumpuk tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga berdampak pada kesehatan dan kualitas lingkungan. Plastik yang sulit terurai bahkan bisa bertahan puluhan hingga ratusan tahun di alam.
Berangkat dari keresahan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Andalas menghadirkan sebuah inovasi sederhana namun berdampak: mengolah sampah plastik menjadi paving block yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Edukasi dan Praktik Langsung
Kegiatan yang dilaksanakan pada 5 Februari 2026 di Jorong Kapalo Koto ini tidak hanya sebatas sosialisasi, tetapi juga praktik langsung. Masyarakat, terutama ibu rumah tangga dan pemuda nagari, diajak memahami dampak negatif sampah plastik sekaligus mempelajari cara mengolahnya menjadi produk bermanfaat.
Proses pembuatannya cukup sederhana. Sampah plastik yang telah dikumpulkan dan dipilah dilelehkan menggunakan alat pemanas. Plastik cair tersebut kemudian dicampur dengan pasir hingga merata, lalu dimasukkan ke dalam cetakan dan didinginkan sampai mengeras. Hasilnya adalah paving block yang padat dan cukup kuat untuk digunakan sebagai pengeras halaman atau jalan setapak.
Menariknya, penggunaan plastik sebagai bahan pengikat membuat paving block ini lebih kedap air dibandingkan paving berbahan semen biasa.
Antusiasme Warga Tinggi
Selama pelatihan berlangsung, antusiasme masyarakat terlihat jelas. Banyak warga yang baru mengetahui bahwa sampah plastik ternyata bisa diubah menjadi produk konstruksi yang memiliki nilai jual.
Sebelumnya, sebagian besar sampah hanya dibakar atau dibuang begitu saja. Kini, masyarakat mulai memahami bahwa sampah dapat menjadi sumber peluang ekonomi baru jika dikelola dengan kreatif. Meski masih terdapat kendala seperti keterbatasan alat cetak dan pengaturan suhu saat pelelehan, hasil awal yang diperoleh dinilai cukup memuaskan untuk skala rumah tangga.
Solusi Lingkungan Sekaligus Peluang Usaha
Program ini tidak hanya berfokus pada pengurangan volume sampah, tetapi juga membuka peluang usaha mikro bagi masyarakat nagari. Dengan pengembangan lebih lanjut, produksi paving block berbahan limbah plastik berpotensi menjadi unit usaha berbasis komunitas.
Inisiatif ini membuktikan bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus rumit atau mahal. Dengan edukasi yang tepat dan kemauan untuk berinovasi, persoalan sampah bisa diubah menjadi berkah yang bernilai ekonomi.
Nagari Koto Laweh kini menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil—dari sampah yang tak terpakai, menjadi pijakan yang bermanfaat bagi banyak orang.
Penulis:
KKN REGULER 1 NAGARI KOTOLAWEH 2026











