Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas

-

Tidak ada video disisipkan.

CIANJUR, TEROPONGMEDIA.ID — Tangis sejumlah siswa pecah saat sesi refleksi dalam kegiatan Gerakan Sekolah Bebas Bullying di SD Kademangan, JL RA Natamanggala No.Km 9, Kademangan, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026). Sosialisasi yang digelar mahasiswa KKN UIN Sunan Gunung Djati Bandung Kelompok 203 itu berubah menjadi ruang pengakuan pengalaman perundungan di lingkungan sekolah.

Beberapa siswa mengaku pernah diejek dan disakiti teman sebaya. Salah satu siswi kelas VI menyampaikan pesan sederhana namun tegas, “Jangan suka membully orang, orang juga punya hati atau perasaan.” Ia mengaku teringat pengalaman saat menjadi sasaran ejekan teman-temannya.

Koordinator Mahasiswa KKN Kelompok 203 sekaligus pemateri sosialisasi, Silfi Safira Nurjamilah (21), mengatakan tema tersebut dipilih setelah mahasiswa menemukan perilaku antarsiswa yang sebenarnya sudah masuk kategori bullying, tetapi masih dianggap candaan.

“Kami ingin siswa memahami bahwa tindakan yang menyakiti orang lain tidak bisa dianggap wajar hanya karena disebut bercanda,” ujarnya.

Menurut Silfi, siswa kelas IV–VI berada pada fase penting pembentukan karakter dan relasi sosial sehingga edukasi pencegahan bullying perlu dilakukan sebelum perilaku tersebut menjadi kebiasaan. Ia menegaskan pesan utama kegiatan tersebut adalah mengajak siswa lebih peka terhadap perasaan teman dan memahami batas antara bercanda dengan tindakan yang membuat orang lain tidak nyaman.

Sekolah Akui Budaya Ejek Masih Muncul

Pelaksana tugas Kepala SD Kademangan, Hj. An An Nurhasanah, menilai kegiatan tersebut menjawab kebutuhan nyata sekolah. “Sangat membantu anak-anak SD Kademangan. Semoga dengan materi ini karakter mereka menjadi lebih baik,” katanya usai kegiatan.

Ia menegaskan pencegahan bullying harus dimulai dari keluarga dan sekolah agar perilaku negatif tidak terbawa hingga jenjang pendidikan berikutnya.

Pandangan serupa disampaikan guru Bahasa Inggris SD Kademangan, Vina. Ia menyebut bentuk perundungan yang paling sering muncul justru berasal dari ucapan sehari-hari. “Yang paling urgent itu ucapan anak-anak. Kalau dibiarkan akan menjadi kebiasaan,” ujarnya.

Menurut Vina, banyak siswa belum menyadari bahwa ejekan yang dianggap bercanda sebenarnya termasuk bullying. Tanda siswa yang mengalami perundungan kerap terlihat dari rasa kurang percaya diri dan ketakutan terhadap penilaian teman sebaya.

Refleksi Jadi Pembeda Sosialisasi Kelompok 203

Kegiatan KKN UIN SGD Bandung Kelompok 203 dikemas melalui video, tanya jawab, pantomim, permainan, dan sesi refleksi. Pada bagian akhir, siswa diminta menuliskan pengalaman tidak menyenangkan di sticky notes tanpa mencantumkan nama.

“Kami tidak hanya ingin siswa tahu definisi bullying, tetapi juga merasakan, merefleksikan pengalaman mereka, lalu membuat komitmen bersama untuk menghentikan perilaku itu,” kata Silfi.

Ia menambahkan suasana kelas berubah menjadi lebih tenang dan emosional ketika sesi refleksi dimulai. Beberapa siswa terlihat sangat tersentuh, bahkan ada yang menangis saat mengingat pengalaman pribadi mereka.

Papan Deklarasi Jadi Komitmen Bersama

Sebagai tindak lanjut, mahasiswa membuat Papan Deklarasi Anti-Bullying yang ditandatangani seluruh siswa sebagai bentuk komitmen menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan saling menghargai. Silfi berharap papan deklarasi tersebut tetap dipasang di sekolah sebagai pengingat komitmen bersama.

Dukungan juga datang dari orang tua siswa, Siti Nurjanah, yang berharap edukasi anti-bullying tidak berhenti di sekolah, tetapi juga menjangkau lingkungan masyarakat agar orang tua memahami dampak mental perundungan.

Sekolah menyatakan program pencegahan bullying akan dilanjutkan melalui pembiasaan setiap Jumat bersama guru olahraga dan guru PAI. Guru diminta cepat tanggap ketika mendengar kata-kata kasar agar perilaku negatif tidak menular kepada siswa lain.

Kegiatan ini mendorong SD Kademangan memperkuat budaya sekolah ramah anak: ruang belajar tanpa ejekan, tanpa perundungan, dan lebih aman bagi siswa untuk tumbuh serta menyampaikan pengalaman mereka.

Penulis: Fathir Fahrezi Fardiansyah
Prodi: S1 Ilmu Komunikasi Jurnalistik, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
Pemain Timnas Indonesia Persib
Timnas Indonesia Dibayangi Persaingan Selisih Gol, John Herdman Harus Benahi Lini Serang
IMG-20260928-WA0007
Pancasila dalam Genggaman, Ribuan Pelanggan PLN Majalaya Ikut Jaga Transparansi lewat SwaCAM
Polri di Bawah TNI dan Kemendagri
2.373 Personel Gabungan Amankan Indonesia vs Malaysia di GBK, Pengamanan Diperketat
IMG-20260926-WA0021
Jokowi Puji PSI Kota Bandung, Dorong Kader Aktif di Masyarakat
Evaluasi Program di Ciambar Sukabumi, Menakar Peran Kampus bagi Masyarakat Desa
Evaluasi Program Pengabdian Universitas Trisakti di Ciambar Sukabumi, Menakar Peran Kampus bagi Masyarakat Desa
Berita Lainnya

1

KDM Gagas Angkut Hasil Tani di Jawa Barat Pakai Kereta Api

2

Angklung Sered Balandongan: Dari Ritual ke Adu Kekuatan yang Terancam Punah

3

BEM UI Buat Meme Puan Maharani Tikus, PDIP Baper?

4

Gaya Hedon Kaesang-Erina Dirujak Netizen, Ungkit Mantan Pacar

5

4 Waktu Ngemil yang Nggak Bakalan Bikin Gendut!
Headline
IMG-20260926-WA0015
Tunjukan Kartu Anggota di Rakorda PSI Kota Bandung, Jokowi: Sudah Setahun
Hoaks Pemadaman Internet Tiga Hari Beredar, Masyarakat Diimbau Tak Panik
Hoaks Pemadaman Internet Tiga Hari Beredar, Masyarakat Diimbau Tak Panik
bank bjb UPI
bank bjb dan UPI Berkolaborasi Perluas Manfaat bagi Civitas Akademika dan Masyarakat
bank bjb Buka Kantor Cabang Pangandaran, Perkuat Akses Keuangan dan Potensi Ekonomi Pesisir
bank bjb Buka Kantor Cabang Pangandaran, Perkuat Akses Keuangan dan Potensi Ekonomi Pesisir