JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – Retakan di internal pemerintahan Donald Trump mulai terlihat di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang kini telah memasuki minggu ketiga.
Kepala Pusat Kontraterorisme Nasional, Joe Kent, secara mengejutkan mengundurkan diri. Ia menjadi pejabat senior pertama yang mundur secara terbuka karena menolak perang yang sedang berlangsung.
Viral Surat Pengunduran Diri
Dalam surat yang diunggah ke media sosial, Kent secara terang-terangan mengkritik kebijakan perang tersebut.
Bahkan, ia menyebut tidak ada ancaman langsung dari Iran terhadap AS.
“Dengan hati nurani yang bersih, saya tidak dapat mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran. Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi negara kita,” tulis Kent.
Lebih jauh, ia menuding bahwa konflik ini tidak lepas dari tekanan politik dan kepentingan Israel di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan ini langsung memicu kontroversi di Washington, mengingat Kent selama ini dikenal sebagai sosok yang vokal menentang intervensi militer luar negeri.
Gedung Putih Buka Suara
Pernyataan Kent segera dibantah oleh juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt. Ia menilai klaim tersebut tidak berdasar dan menegaskan bahwa keputusan perang diambil berdasarkan ancaman nyata.
“Presiden memiliki bukti yang kuat dan meyakinkan bahwa Iran akan menyerang Amerika Serikat terlebih dahulu,” ujarnya.
Gedung Putih menyebut bukti tersebut berasal dari berbagai sumber intelijen, meskipun tidak dijelaskan secara rinci ke publik.
Dinamika Intelijen dan Risiko Balasan
Pengunduran diri Kent juga menyoroti ketegangan di dalam komunitas intelijen AS. Ia disebut memiliki kedekatan dengan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard, yang hingga kini belum memberikan pernyataan resmi terkait konflik tersebut.
Sebelumnya, laporan dari Dewan Intelijen Nasional telah memperingatkan risiko besar dari intervensi militer. Salah satunya adalah kemungkinan Iran tidak akan runtuh, justru meningkatkan potensi serangan balasan terhadap kepentingan AS dan sekutunya di Timur Tengah.
Analisis tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa perang ini bisa berkembang menjadi konflik berkepanjangan dengan dampak luas terhadap stabilitas regional.
Baca Juga:
Perang Iran vs AS-Israel Hantam Wisata Indonesia, Potensi Rugi Rp184 M per Hari!
WNA Overstay di Bali Dapat Izin Tinggal Darurat Imbas Perang Iran-AS-Irael
Pengunduran diri Kent menjadi sinyal bahwa tidak semua pihak di dalam pemerintahan sepakat dengan arah kebijakan luar negeri saat ini. Di tengah perang yang terus bereskalasi, perbedaan pandangan ini berpotensi memicu tekanan politik lebih besar di dalam negeri AS.
Hingga kini, Kent belum memberikan komentar tambahan, sementara Kantor Direktur Intelijen Nasional juga belum merespons secara resmi.
Perang yang memasuki pekan ketiga ini bukan hanya soal pertempuran di lapangan, tetapi juga membuka babak baru perdebatan di jantung kekuasaan Amerika Serikat.
(Dist)











