MADRID, TEROPONGMEDIA.ID — Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, kembali menunjukkan komitmen aktif Indonesia dalam percaturan kebudayaan global dengan mengikuti serangkaian diskusi dalam konferensi internasional MONDIACULT 2025 di Spanyol.
Forum yang diakui sebagai pertemuan kebijakan budaya terbesar di dunia ini menjadi platform strategis bagi Indonesia untuk turut menyusun arah kebijakan kebudayaan dunia.
Keikutsertaan ini menegaskan teknis Kementerian Kebudayaan RI untuk memposisikan kebudayaan sebagai instrumen vital dalam membangun kehidupan berkelanjutan.
“Partisipasi Indonesia dalam forum internasional ini juga mencerminkan upaya diplomasi budaya yang semakin strategis,” kata Fadli Zon, dalam keterangan resminya, dikutip Rabu (1/10/2025).
Partisipasi Indonesia dalam forum bergengsi ini bukan hanya sekadar kehadiran, melainkan cerminan dari diplomasi budaya yang semakin strategis.
Dengan hadir secara aktif di panggung global, Indonesia menegaskan peran penting kebudayaan sebagai jembatan untuk memperkuat dialog, membangun kolaborasi, dan menemukan solusi bersama dalam menghadapi berbagai tantangan dunia.
Melalui keterlibatannya, Indonesia mengajak seluruh pihak untuk terus mendukung upaya menjadikan kebudayaan sebagai kekuatan pemersatu dan sumber inspirasi bagi bangsa dan dunia.
BACA JUGA
Bencana Alam Ancam Cagar Budaya Bali, Kemenbud Minta Waspada
Logo HJKB 215 Diluncurkan, Simbol Kreativitas, Budaya, dan Semangat Kolaborasi
MONDIACULT 2025
Mengutip laman resmi UNESCO, konferensi kebijakan budaya terbesar di dunia, MONDIACULT, kembali digelar pada 2025. Pertemuan ini bertujuan merumuskan agenda kebudayaan global untuk tahun-tahun mendatang dengan menghadirkan ribuan peserta dari berbagai belahan dunia.
Pembahasan dalam konferensi yang diselenggarakan oleh UNESCO ini akan terpusat pada enam tema utama dan dua area fokus, yang dirancang untuk menjawab tantangan sekaligus menangkap peluang masa depan sektor kebudayaan.
Di sisi lain, MONDIACULT 2025 juga diproyeksikan menjadi platform advokasi tingkat tinggi. Dengan tenggat waktu Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 yang kian dekat, konferensi ini diharapkan dapat menciptakan konsensus dan momentum untuk menetapkan budaya sebagai tujuan yang mandiri dalam strategi pembangunan PBB pasca-2030.
“Prinsipnya, hak budaya harus dijamin untuk semua dan dijunjung tinggi oleh semua. Untuk itu, UNESCO akan memastikan keterwakilan yang beragam, mulai dari pembuat kebijakan, organisasi masyarakat sipil, seniman, hingga kelompok muda,” demikian pernyataan UNESCO yang menyoroti komitmen inklusivitas dalam pertemuan tersebut.
(Aak)











