Sahroni Soroti Celah Keamanan DPR Usai Penipuan Berkedok KPK Terbongkar

rumah ahmad sahroni dijarah
(doc.Demokratis.co.id)
-

Tidak ada video disisipkan.

JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, menyoroti lemahnya sistem keamanan di lingkungan parlemen setelah terungkap kasus penipuan yang mengatasnamakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pelaku bahkan disebut mampu masuk hingga area Gedung DPR dan mendekati pimpinan.

Kasus ini bermula saat Sahroni didatangi seorang perempuan yang mengaku sebagai pejabat KPK dan secara langsung meminta uang sebesar Rp300 juta tanpa proses negosiasi.

“Pelaku datang langsung ke Gedung DPR, bahkan sampai ke ruang tunggu pimpinan. Ini cukup mengejutkan karena menggunakan nama KPK,” ujar Sahroni dalam konferensi pers di Jakarta.

Ia menilai, keberanian pelaku menembus area terbatas tersebut menjadi indikasi adanya celah serius dalam sistem pengamanan dan verifikasi identitas di lembaga negara.

Baca Juga:

Modus Baru Penipuan! Empat Orang Ngaku Pegawai KPK Ditangkap, Bawa Uang Ribuan Dolar

Dalam aksinya, pelaku menggunakan pendekatan persuasif dengan komunikasi intens untuk menekan korban. Sahroni menyebut tidak ada ruang tawar-menawar dalam permintaan tersebut.

“Tidak ada negosiasi. Permintaan langsung Rp300 juta,” tegasnya.
“Kalau dibilang meminta, iya, karena yang bersangkutan terus-menerus menelepon meminta uang tersebut,” lanjutnya.

Sahroni juga memastikan tidak ada pembahasan terkait perkara hukum dalam komunikasi tersebut, sehingga kasus ini murni merupakan modus penipuan dengan mencatut nama institusi.

Setelah melakukan konfirmasi ke KPK yang membantah keterlibatan, Sahroni langsung berkoordinasi dengan aparat kepolisian. Kasus ini kemudian diungkap pada 9 April 2026, dengan penangkapan seorang perempuan berinisial TH (48) bersama pihak lain yang terlibat.

Dari penindakan tersebut, aparat menyita sejumlah barang bukti, termasuk uang sekitar 17.400 dolar AS atau setara Rp300 juta, stempel KPK, surat panggilan berkop KPK, serta identitas palsu.

Sahroni menegaskan bahwa kasus ini dikategorikan sebagai tindak pidana penipuan, bukan pemerasan, setelah melalui proses penyelidikan.

Ia pun mengingatkan publik, termasuk pejabat, untuk lebih waspada terhadap modus serupa yang mengatasnamakan lembaga negara tanpa verifikasi yang jelas.

“Ini jadi peringatan agar semua pihak tidak mudah percaya. Verifikasi itu penting,” ujarnya.

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

6 Daftar Wisata, Dulu Favorit Sekarang Ditinggal Pengunjung

2

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

3

Meski Matic, ini Catatan Berkesan BBM Kijang Kapsul LGX

4

Siapa Thomas Matthew Crooks Penembak Donald Trump? Terdaftar Pemilih Partai Republik

5

Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City