JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Suasana Bulan suci Ramadan bagi umat Muslim di Amerika Serikat tahun ini terasa berbeda. Razia imigrasi, meningkatnya retorika anti-Muslim, serta konflik geopolitik di Timur Tengah membuat banyak komunitas Muslim menjalani Ramadan dengan rasa cemas.
Di Paterson, wilayah di New Jersey yang dikenal memiliki populasi Muslim per kapita tertinggi di Amerika, kekhawatiran itu sangat terasa. Sejumlah warga memilih tidak menghadiri kegiatan komunitas karena takut menjadi target penindakan imigrasi.
Seorang warga setempat, Haneen Alatiyat (18), mengatakan bahwa suasana Ramadan tahun ini jauh dari biasanya.
“Makna hari raya ini adalah untuk bersama dengan orang-orang yang Anda cintai. Sayangnya, karena razia ICE yang terjadi, orang-orang tidak ingin melakukan itu,” ujarnya di luar Islamic Center of Passaic County, dikutip Sabtu (7/3/2026)
Acara Buka Puasa Terpaksa Dibatalkan
Kondisi serupa juga terjadi di Minnesota. Imam Yusuf Abdulle, Direktur Eksekutif North American Islamic Association, menyebut komunitasnya mengalami tekanan ekonomi sekaligus psikologis akibat penindakan imigrasi skala besar.
Salah satu dampaknya adalah pembatalan kegiatan buka puasa bersama di Abubakar As-Saddique Islamic Center di Minneapolis.
Biasanya, kegiatan iftar di masjid tersebut disponsori oleh pelaku usaha lokal. Namun tahun ini banyak pengusaha memilih tidak terlibat karena khawatir dengan situasi yang berkembang.
“Rasa takut masih sangat terasa dan akan tetap ada untuk sementara waktu,” kata Abdulle.
Sebagai alternatif, pihak masjid hanya menyediakan kurma dan air bagi jamaah yang datang untuk berbuka.
Sentimen Anti-Muslim Menguat Jelang Pemilu
Memasuki tahun politik di Amerika, sejumlah tokoh komunitas Muslim menilai sentimen anti-Muslim kembali meningkat. Beberapa kebijakan dan wacana politik bahkan disebut mulai menargetkan komunitas tersebut.
Di Texas, Gubernur Greg Abbott memimpin upaya yang dinilai menghambat pembangunan komunitas Muslim. Sementara di United States Congress, sejumlah rancangan undang-undang dilaporkan mulai menyoroti kerangka hukum syariah.
Wakil Direktur Nasional Council on American-Islamic Relations, Edward Ahmed Mitchell, menilai fenomena ini sering muncul menjelang pemilu.
“Setiap tahun pemilihan, Anda melihat peningkatan fanatisme anti-Muslim, tetapi kali ini jauh lebih buruk dari biasanya,” tegasnya.
Konflik Global Ikut Membayangi
Selain tekanan domestik, perhatian komunitas Muslim Amerika juga tertuju pada konflik di Timur Tengah dan Afrika Utara. Banyak warga memiliki keluarga di wilayah yang sedang dilanda perang.
Di kawasan yang dikenal sebagai “Jalan Palestina” di Paterson, warga terus memantau kabar keluarga mereka di Gaza Strip, yang saat ini menghadapi krisis pangan dan dampak konflik regional.
Wakil Wali Kota Paterson, Raed Odeh, mengatakan situasi global tersebut membuat suasana Ramadan menjadi jauh dari perayaan yang biasanya penuh kegembiraan.
Ia juga ikut mendorong pembebasan Leqaa Kordia, warga Paterson yang ditahan oleh otoritas imigrasi setelah mengikuti aksi protes di New York City.
Baca Juga:
Putra Khamenei, Mojtaba Hosseini Dikabarkan Jadi Pemimpin Baru Iran
Meski dihimpit berbagai tekanan, solidaritas di antara komunitas Muslim Amerika tetap kuat. Masjid-masjid meningkatkan sistem keamanan, sementara organisasi masyarakat aktif memberikan edukasi mengenai hak-hak hukum bagi jamaah.
Lembaga seperti Muslim Public Affairs Council juga terus membagikan panduan kepada warga tentang cara menghadapi situasi penegakan hukum imigrasi.
Di tengah suasana yang penuh ketidakpastian, harapan komunitas Muslim di Amerika tetap sederhana: menjalankan ibadah dengan aman dan meraih kedamaian.
(Dist)











