BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Mahasiswa Teknik Kimia Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengembangkan inovasi penyerap kelembapan berbasis limbah pertanian berupa hidrogel dari kulit jagung. Produk tersebut diberi nama Hydrozea dan dirancang sebagai alternatif alami pengganti silika gel sintetis yang dinilai kurang ramah lingkungan.
Tim peneliti yang terdiri dari Shyerly Fauziah Nur Rizki, Siti Nurazilla, Rajiv Tamim Wicaksana, Mia Oktafia, dan Rafeyfa Nadira Zakauha memilih kulit jagung (zea mays) sebagai bahan utama karena kandungan selulosanya yang tinggi serta ketersediaannya yang melimpah sebagai limbah pertanian. Selain melalui proses sintesis kimia, hidrogel ini juga diperkaya essential oil chamomile yang berfungsi sebagai penyerap kelembapan alami sekaligus aromaterapi antibakteri.
Ketua tim, Shyerly Fauziah Nur Rizki, menjelaskan bahwa ide pengembangan Hydrozea berangkat dari persoalan kelembapan udara dalam ruangan yang kerap memicu masalah kesehatan.
“Kelembapan udara yang tinggi sering menimbulkan bau tidak sedap, jamur, serta pertumbuhan mikroorganisme berbahaya. Ini bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga bisa berdampak pada kesehatan pernapasan,” ujar Shyerly, dikutip dari laman resmi UMS, Jumat (6/2/2026).
Ia menambahkan, solusi yang selama ini digunakan masyarakat masih didominasi bahan sintetis seperti silika gel yang meski efektif, namun memiliki dampak lingkungan jangka panjang.
“Silika gel memang menyerap kelembapan dengan baik, tetapi tidak biodegradable dan berpotensi menghasilkan residu kimia berbahaya jika terpapar dalam jangka panjang. Karena itu, diperlukan inovasi berbahan alami yang aman dan ramah lingkungan,” katanya.
Baca Juga:
Fluviotion: Inovasi Mahasiswa ITB Atasi Krisis Air Bersih di Garut
Pengembangan Hydrozea dilakukan melalui penelitian laboratorium di Teknik Kimia UMS selama sekitar enam minggu. Prosesnya diawali dengan isolasi selulosa dari kulit jagung petani di wilayah Sukoharjo, kemudian dilanjutkan dengan tahap sintesis hidrogel hingga terbentuk material penyerap air.
Salah satu anggota tim, Siti Nurazilla, menyebut bahwa penambahan essential oil chamomile memberikan nilai tambah pada produk tersebut.
“Hydrogel ini tidak hanya berfungsi sebagai penyerap kelembapan, tetapi juga memiliki efek antiinflamasi, antibakteri, serta aromaterapi yang menenangkan, tanpa mengganggu struktur polimernya,” jelas Siti.
Selain itu, Hydrozea juga memiliki keunggulan dari sisi keberlanjutan karena dapat digunakan kembali.
“Setelah jenuh air, hidrogel bisa dikeringkan kembali menggunakan sinar matahari atau oven bersuhu rendah. Ini menunjukkan potensi reusability yang baik dan lebih ramah lingkungan,” tambahnya.
Tim peneliti menilai Hydrozea memiliki komposisi kimia yang stabil, struktur yang kuat, serta daya serap kelembapan yang efektif. Dengan karakteristik tersebut, inovasi ini dinilai berpotensi dikembangkan sebagai material alami penyerap kelembapan ramah lingkungan dan alternatif Natural Air Purification (NAP) untuk menggantikan bahan sintetis di masa depan.











