Ketika Basa-basi Jadi Beban, Tantangan di Balik Budaya Ramah Indonesia

-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Indonesia kerap dipuji sebagai bangsa yang ramah, santun, dan penuh basa-basi. Dari pertanyaan ringan seperti “Sudah makan?” hingga keharusan menjaga senyum dan nada bicara yang lembut, dalam budaya komunikasi Indonesia ini harus dibangun atas nilai keharmonisan dan kesopanan.

Namun di balik keramahan itu, tersimpan persoalan yang jarang dibicarakan, yakni standar komunikasi sosial yang justru melelahkan bagi sebagian kelompok yang memiliki cara berkomunikasi berbeda, seperti individu neurodivergent (penyandang autisme).

Dalam etika percakapan yang lazim di Indonesia, keheningan sering dimaknai sebagai tanda ketidaktertarikan atau ketidaksopanan. Orang dianggap perlu terus merespons, mengisi jeda, dan menyaring kata agar tidak menyinggung. Pola ini relatif mudah dijalani oleh individu, serta memilih kata dengan sangat hati-hati agar tidak menyinggung perasaan. Standar sosial inilah yang tanpa disadari menciptakan tekanan komunikasi.

“Budaya komunikasi Indonesia sangat dipengaruhi oleh nilai harmoni dan sungkan. Masalahnya, standar ini sering dianggap universal, padahal tidak semua orang memproses interaksi sosial dengan cara yang sama,” ujar Dr. Dewi Retno Suminar, psikolog sosial dari Universitas Airlangga.

Jebakan Budaya High-Context

Secara kultural, Indonesia termasuk dalam masyarakat dengan gaya komunikasi high-context, istilah yang diperkenalkan antropolog Edward T. Hall adalah makna pesan tidak hanya terletak pada kata-kata, tetapi juga pada konteks sosial, bahasa tubuh, intonasi, relasi kuasa, hingga hal-hal yang tidak diucapkan secara eksplisit.

Akibatnya, individu yang berkomunikasi secara lugas dan literal kerap disalahpahami. Keheningan dianggap canggung, kejujuran dinilai kasar, dan sikap menarik diri dicap antisosial.

Padahal, bagi individu dengan autisme, diam sering kali merupakan cara memproses informasi dan menenangkan rangsangan sensorik. “Autisme bukan kegagalan fungsi saraf, melainkan perbedaan cara otak memproses pengalaman dan interaksi,” jelas Dr. Yuliana Setyaningsih, peneliti neurodiversitas yang terlibat dalam riset komunikasi inklusif.

Riset tersebut menunjukkan bahwa kelelahan komunikasi yang dialami individu autisme bukan semata karena kondisi mereka, melainkan karena lingkungan sosial yang tidak memberi ruang bagi perbedaan ritme dan gaya komunikasi.

Budaya Standar TikTok di Kalangan Generasi Digital, Algoritma menjadi Penentu Cara Hidup

Wellness Jadi Budaya Baru Indonesia 2026, dari Healing Travel hingga Sleepmaxxing

Basa-Basi, Ramah atau Terpaksa?

Fenomena ini juga bersinggungan dengan budaya basa-basi yang mengakar kuat. Dalam dunia kerja, pembicaraan berlapis-lapis kerap mengaburkan pesan inti. Kritik dibungkus dengan kata-kata halus, seperti “rapat molor” karena pembukaan panjang, dan kejujuran itu sering dikalahkan demi menjaga suasana tetap “adem”.

Sosiolog Universitas Indonesia, Dr. Septi Satya Rahayu, menilai basa-basi pada dasarnya berfungsi sosial, tetapi bisa menjadi beban jika dipaksakan tanpa konteks.

“Basa-basi itu alat, bukan tujuan. Ketika ia menjadi kewajiban mutlak, komunikasi kehilangan makna dan justru menciptakan tekanan sosial, terutama bagi mereka yang lebih nyaman dengan komunikasi langsung,” ujarnya.

Menariknya, generasi muda mulai mendorong pergeseran nilai. Komunikasi yang lebih lugas dan efisien semakin diterima, meski masih kerap dianggap kurang sopan oleh generasi sebelumnya. Pergeseran ini membuka peluang redefinisi sopan santun yang lebih inklusif.

Ramah yang Melelahkan

Dalam praktik sehari-hari, budaya basa-basi yang dimaksudkan untuk mencairkan suasana justru bisa menjadi beban sosial. Di dunia kerja, rapat kerap berlarut-larut karena terlalu banyak pembukaan simbolik. Kritik dibungkus sedemikian rupa hingga pesan utamanya kabur. Di ruang digital, komentar manis sering diberikan bukan karena kepedulian, melainkan demi menjaga citra sosial.

Tekanan ini mendorong banyak individu neurodivergent melakukan masking, dengan meniru perilaku yang dianggap normal, seperti memaksakan kontak mata, tersenyum, atau ikut basa-basi agar tidak dicap “aneh”.

“Masking mungkin terlihat sepele, tapi dampaknya serius. Dalam jangka panjang, ini bisa memicu kelelahan mental, kecemasan, bahkan depresi,” kata Dr. Yuliana.

Masalah Empati Ganda

Fenomena ini dikenal sebagai double empathy problem, teori yang diperkenalkan sosiolog Inggris Damian Milton. Intinya, hambatan komunikasi tidak hanya terjadi pada individu neurodivergent, tetapi juga pada masyarakat neurotipikal yang kesulitan memahami perspektif dan pengalaman hidup yang berbeda.

Selama ini, beban adaptasi nyaris selalu dibebankan pada individu dengan autisme. Mereka dilatih untuk menyesuaikan diri dengan standar mayoritas, sementara edukasi publik untuk mendorong masyarakat memahami neurodiversitas masih minim.

“Selama kita menganggap satu gaya komunikasi sebagai satu-satunya yang sopan dan benar, maka inklusi hanya akan jadi slogan,” tegasnya.

Menuju Keramahan yang Lebih Inklusif

Di sejumlah negara maju, seperti Inggris dan Australia, pendekatan inklusif mulai bergeser. Fokusnya bukan lagi “memperbaiki” individu, melainkan membangun lingkungan yang adaptif. Hal ini dapat dilaksanakan melalui pendidikan publik, panduan komunikasi di tempat kerja, dan intervensi dini berbasis keluarga.

Indonesia sebenarnya telah memulai langkah awal lewat kebijakan pendidikan inklusif. Namun, para pakar menilai kebijakan ini masih perlu diterjemahkan ke dalam praktik sehari-hari, terutama dalam membangun budaya komunikasi yang aman dan saling menghargai.

Menurut Dr. Yuliana, keheningan tidak seharusnya dimaknai sebagai ketidakterlibatan, dan komunikasi yang langsung tidak otomatis berarti tidak sopan.

“Inklusi sejati lahir dari kemauan untuk memahami, bukan mengubah,” ujarnya.

Keramahan adalah kekuatan sosial Indonesia. Namun, di era yang menuntut keterbukaan dan keberagaman, keramahan perlu didefinisikan ulang—bukan sekadar senyum dan basa-basi, melainkan kesediaan memberi ruang bagi perbedaan cara berpikir dan berkomunikasi.

Dengan begitu, budaya ramah Indonesia tidak hanya terasa hangat di permukaan, tetapi juga adil dan inklusif bagi semua.

(Magang UIN Sunan Gunung Djati/Robby Nuzula Ramadhan)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
Persib vs PSIM
I.League Tegaskan Aturan 3 Pemain Asing di League Cup 2026/2027
JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – I.League menegaskan regulasi penggunaan pemain asing dalam League Cup...
IMG-20261027-WA0001
Momentum Hari Listrik Nasional ke-81, PLN Majalaya Ajak Pelanggan Manfaatkan Promo Tambah Daya 50 Persen
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Hari Listrik Nasional (HLN) ke-81 menjadi momentum bagi PT PLN (Persero)...
Picture1
Lime Coffee Shop Resto favehotel Hyper Square Bandung Tutup Sementara untuk Renovasi, Siap Hadir Kembali pada Awal Desember 2026
Bandung, 20 Oktober 2026 – Lime Coffee Shop Resto yang berlokasi di favehotel Hyper Square Bandung akan...
Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung bermitra dengan Sanggar Tari Gaya Gita Studio Kota Sukabumi
Teater Tari  ‘Pakujajar di Gunung Parang’Mengajak Partisipasi Generasi Muda mengenal Asal Usul  Kota Sukabumi
Retno Dwimarwati SUKABUMI, TEROPONGMEDIA.ID– Rekonstruksi Legenda Pakujajar di Gunung Parang...
IMG-20261024-WA0001
Kolaborasi Berbagi Cahaya, Kejari Kabupaten Bandung dan PLN UP3 Majalaya Salurkan Bantuan untuk Warga Jelekong
BANDUNG, TEROPONGMEDIA ID – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Bandung berkolaborasi dengan PT...
Berita Lainnya

1

mengobati gigitan tomcat-1
Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Gigitan tomcat dapat menyebabkan kulit melepuh dan reaksi alergi pada...

2

Brace Cristiano Ronaldo
Brace Cristiano Ronaldo Warnai Kemenangan Al Nassr atas Al Gharafa di Liga Champions Asia
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Cristiano Ronaldo kembali membuktikan kehebatannya di atas lapangan...

3

Jadwal Adzan Magrib Lombok
Jadwal Adzan Magrib Lombok Hari Ini 17 Maret 2025
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Bagi umat muslim, jadwal adzan magrib merupakan hal yang penting ketika...

4

AC Milan
AC Milan Bawa Pulang Kemenangan Setelah Taklukan Como 2-1
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — AC Milan berhasil kalahkan Como dengan skor 2-1 dalam pertandingan...

5

kijang lgx
Meski Matic, ini Catatan Berkesan BBM Kijang Kapsul LGX
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Transmisi otomatis konvensional dirancang untuk memberikan pengalaman...
Headline
WhatsApp Image 2026-10-23 at 19.38
Cita Rasa Halloween: Swiss-Belresort Dago Heritage Hadirkan Menu Spesial Haunted Feast
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Dalam menyambut musim Halloween tahun ini, Swiss-Belresort Dago Heritage...
WhatsApp Image 2026-10-22 at 17.17
Hampir Dua Dekade di Industri Perhotelan, Babak Baru Dimulai: Yunindra Hardino Pimpin Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung sebagai General Manager
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung mengumumkan pengangkatan Mr....
Dorong Tata Kelola dan Kepastian Hukum, bank bjb Perkuat Kolaborasi dengan Kejati Banten
bank bjb Perkuat Kolaborasi dengan Kejati Banten Demi Peningkatan Tata Kelola dan Kepastian Hukum
BANTEN, TEROPONGMEDIA.ID – bank bjb memperkuat sinergi dengan Kejaksaan Tinggi Banten melalui Penandatanganan...
Ferry Paulus
Isu Panas Hak Persib Dipinjamkan LIB, Persija Layangkan Somasi
JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – Persija Jakarta mengambil langkah hukum dengan melayangkan somasi kepada...