Keberatan dengan Istilah ‘Geng Solo’, Ketua KWPI: Harusnya Geng Mulyono!

geng solo
(Instagram/iriana_jokowii)
-

Tidak ada video disisipkan.

JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Penyebutan “Geng Solo” yang belakangan ini digunakan untuk merujuk pada figur-figur yang dekat dengan  Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi)  secara politis, menuai penolakan dari masyarakat Solo, Jawa Tengah.

Adapun salah satu yang menolak adalah Ketua Umum Komunitas Wanita Pejuang Indonesia (KWPI) Nasional, Wuri Handayani.

Wanita yang akrab disapa dengan Wuri Baret itu menilai, penyematan istilah tersebut memberikan stigma negatif kepada warga Solo secara keseluruhan. Ia menegaskan bahwa tidak semua masyarakat Solo bersifat buruk.

“Apalagi kata-kata Geng Solo, bahwa tidak semua orang Solo itu picik, licik, dan busuk, apalagi zalim,” kata Wuri dalam tayangan  kanal YouTube Refly Harun, Senin (13/10/2025).

Wuri, yang juga pernah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk Daerah Pemilihan Jawa Tengah V (yang mencakup Kota Solo, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Boyolali), memberikan alternatif istilah yang menurutnya lebih tepat digunakan.

BACA JUGA:

Roy Suryo Cs Datangi Makam Ibu Jokowi, Faldo PSI: Semua Manusia akan Kembali ke Maha Kuasa

Garis Keras Jokowi Geruduk Bareskrim, Desak Polisi Tindak Roy Suryo Cs hingga Ancam Propam-kan

“Harusnya itu bukan Geng Solo, tapi Geng Mulyono atau Geng Jokowi,” ujarnya.

Hal yang sama juga ikut diutarakan oleh pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago, yang mengemukakan bahwa istilah “Geng Solo” mencerminkan adanya persoalan mendalam dalam dinamika kekuasaan nasional. Ia menyebut fenomena tersebut menunjukkan munculnya loyalitas ganda di dalam struktur pemerintahan.

“Dalam politik, loyalitas tidak bisa bercabang. Kalau ada loyalitas ganda yang terjadi bukan harmoni melainkan kekacauan,” ujar Pangi dalam tayangan Rakyat Bersuara  iNews, Selasa (02/09).

Menurut Pangi, kemunculan istilah tersebut bukan tanpa latar belakang. Ia menjelaskan bahwa masyarakat kini mulai merasakan adanya konflik kepentingan di antara para elite pemerintahan. Kondisi itu menimbulkan persepsi bahwa ada dua pusat kekuasaan yang saling bersaing.

“Kalau ini tidak segera dijernihkan akan muncul ruang abu-abu di mana pejabat seakan punya dua pusat gravitasi. Itulah yang kita sebut sebagai loyalitas ganda dan sangat berbahaya,” katanya.

Pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan istilah “Geng Solo” telah menimbulkan polemik, tidak hanya di tingkat masyarakat, tetapi juga dalam wacana politik nasional. Kritik terhadap istilah ini menggambarkan pentingnya kehati-hatian dalam menyematkan label yang bisa berdampak pada citra suatu daerah atau kelompok masyarakat tertentu.

(Saepul)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

2

6 Daftar Wisata, Dulu Favorit Sekarang Ditinggal Pengunjung

3

AC Milan Bawa Pulang Kemenangan Setelah Taklukan Como 2-1

4

Studio Alam Gamplong, Destinasi Perfilman Favorit di Sleman

5

Mursyid Asal Surabaya Dukung Gus Farkhan Evendi Jadi Utusan Presiden
Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City