BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Indonesia bersiap membawa hal-hal yang paling akrab dalam keseharian warganya ke panggung dunia. Mulai dari tempe yang sederhana, alunan dangdut yang merakyat, hingga seni tradisi Mak Yong, semuanya tengah dipersiapkan pemerintah untuk diajukan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
Langkah ini menjadi bagian dari arah kebijakan kebudayaan nasional 2026 yang disusun Kementerian Kebudayaan (Kemenbud). Melalui forum Outlook Kebudayaan 2026, pemerintah menegaskan budaya tidak lagi sekadar soal pelestarian, melainkan instrumen diplomasi dan penggerak ekonomi.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut, tahun 2026 akan menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk tampil lebih percaya diri di tingkat global. Kemenbud memfokuskan kerja pada lima pilar utama, yakni fondasi peradaban, tata kelola digital, ekonomi budaya, perlindungan warisan, serta diplomasi budaya global.
“Budaya Indonesia bukan hanya beragam, tetapi mega diversity. Inilah kekuatan kita yang ingin kita bawa ke dunia,” ujar Fadli, Senin (19/1/2026).
Baca Juga:
Viral! Biduan Dangdut di Panggung Peresmian Masjid Temanggung, Netizen: Aneh!
Pada pilar perlindungan warisan, Tempe, Mak Yong, dan Dangdut akan diajukan ke UNESCO melalui skema joint nomination, yakni pengajuan bersama dengan negara sahabat. Skema ini dinilai mampu memperkuat posisi budaya Indonesia sebagai bagian dari peradaban global yang saling terhubung.
Lebih jauh, Fadli menekankan bahwa narasi besar kebudayaan Indonesia tidak berhenti pada keragaman etnis dan bahasa. Dengan 1.340 suku bangsa, 718 bahasa, 2.727 elemen Warisan Budaya Tak Benda nasional, serta enam situs warisan dunia UNESCO, Indonesia disebut sebagai salah satu peradaban tertua di bumi.
Bahkan, temuan arkeologis di Nusantara turut menantang narasi besar sejarah manusia dunia. Sekitar 60% fosil Homo erectus dunia ditemukan di Indonesia, dengan usia mencapai dua juta tahun. Lukisan gua tertua di dunia berusia 51.200 tahun di Leang Karampuang hingga seni cadas di Muna menjadi bukti panjangnya perjalanan peradaban di wilayah ini.
“Inilah mengapa 2026 kami sebut sebagai titik balik.” tegas Fadli.
Fondasi optimisme itu dibangun dari capaian sepanjang 2025. Pemerintah mencatat restorasi dan revitalisasi lebih dari 1.200 aset budaya, digitalisasi puluhan ribu koleksi museum, peningkatan pengunjung museum hingga 400 persen, serta repatriasi 28.131 fosil koleksi Dubois dari Belanda, termasuk fosil Manusia Jawa.
Di sektor ekonomi budaya, industri film nasional mencatat lebih dari 80 juta penonton. Program Seniman Masuk Sekolah dan berbagai anugerah kebudayaan juga diperluas untuk memperkuat regenerasi pelaku budaya.
Ke depan, diplomasi budaya Indonesia akan semakin diperkuat. Partisipasi dalam ajang global seperti Venice Biennale dan Abu Dhabi Book Fair terus diperkuat, termasuk peringatan 400 tahun pengasingan Syekh Yusuf yang melibatkan jejaring Afrika dan Timur Tengah. Serta, Indonesia berencana membangun museum “rumah budaya” di Cape Town, Afrika Selatan.
“Kami mengundang semua mitra dari lembaga internasional, akademisi, sektor swasta, hingga komunitas budaya, untuk menjadikan 2026 sebagai tahun kolaborasi nyata,” pungkas Fadli.
Dengan membawa tempe dan dangdut ke forum dunia, Indonesia tak hanya menawarkan identitas budaya, tetapi juga narasi peradaban yang hidup, relevan, dan siap berdialog dengan dunia.
(Magang UIN Sunan Gunung Djati/Robby Nuzula Ramadhan)











