BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Pemerintah Kabupaten Ciamis mengambil langkah strategis dalam mengembangkan sektor pariwisata dengan menjadikan Desa Wisata Jalatrang sebagai proyek percontohan model kolaborasi lintas lembaga. Langkah ini menandai pergeseran penting dari pola pembangunan konvensional ke pendekatan collaborative government yang lebih inklusif dan efisien.
Terpilihnya Desa Jalatrang bukan tanpa alasan. Setelah meraih juara pertama Lomba Gapura Sapta Pesona 2025, desa tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi destinasi unggulan. Sebagai bentuk apresiasi, Pemkab Ciamis menggandeng Disparbud Jawa Barat dan Telkom University untuk memberikan program pendampingan jangka panjang selama sembilan bulan.
Peluncuran program ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Kabid Destinasi Disparbud Jabar, Ketua Tim Telkom University, Sekretaris Dinas Pariwisata Ciamis, hingga Kepala Desa Jalatrang. Kehadiran para pengelola dan pelaku pariwisata setempat menunjukkan bahwa transformasi desa wisata membutuhkan keterlibatan komprehensif dari seluruh unsur masyarakat.
Baca Juga:
Kemendes Dorong Desa Bangun Kemitraan dan Kelola Sampah untuk Tingkatkan Ekonomi
Sekretaris Dinas Pariwisata Ciamis, Dian Kusdiana, menekankan bahwa kolaborasi menjadi kunci utama pengembangan desa wisata di tengah keterbatasan anggaran.
“Dengan collaborative government, kita bisa menekan penggunaan APBD tanpa menurunkan kualitas program pengembangan destinasi,” ujarnya, dikutip Jumat (21/11/2025).
Program pendampingan ini menyasar penguatan kapasitas pengelola, pengembangan produk wisata, serta tata kelola yang lebih profesional. Melalui pendekatan ini, Pemkab berharap Jalatrang mampu bersaing dengan destinasi lain dan memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua Tim Telkom University, Dr. Sampurno Wibowo, S.E., M.Si., menegaskan bahwa pendampingan akan berfokus pada tiga pilar penting: branding, advertising, dan selling. Ketiganya dinilai menjadi fondasi utama untuk membangun identitas yang kuat sekaligus mendorong peningkatan kunjungan wisata.
“Kami ingin membantu Desa Jalatrang memiliki diferensiasi yang jelas, strategi promosi yang tepat sasaran, serta kemampuan menjual yang efektif,” jelasnya.
Dengan kerja sama lintas lembaga ini, Jalatrang diharapkan bukan hanya sekadar menjadi desa wisata yang berkembang, tetapi juga menjadi model bagaimana kolaborasi dapat menjadi motor penggerak pariwisata daerah di tengah tantangan efisiensi anggaran. Desa ini kini bersiap melangkah sebagai destinasi unggulan dengan pengalaman wisata yang lebih matang dan berkualitas.
(Budis)











