BNN Ingatkan Bahaya Gas Tertawa Whip Pink: Legal Tapi Bisa Mematikan

Whip Pink
Ilustrasi Whip Pink (@TokoOnline_99)
-

Tidak ada video disisipkan.

JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – Badan Narkotika Nasional (BNN) RI mengingatkan masyarakat akan bahaya serius penyalahgunaan gas tertawa atau nitrous oxide (N2O) yang kerap dikenal dengan sebutan Whip Pink. Meski masih beredar secara legal di Indonesia, gas ini berpotensi menimbulkan dampak fatal jika disalahgunakan untuk tujuan rekreasional.

Kepala BNN RI Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menegaskan bahwa di luar penggunaan medis, N2O kerap dihirup untuk mengejar sensasi euforia singkat, relaksasi, hingga halusinasi ringan. Namun, efek tersebut menyimpan risiko kesehatan yang tidak sebanding.

“Penyalahgunaan gas ini dapat menyebabkan kekurangan oksigen, kerusakan saraf permanen akibat defisiensi vitamin B12, hingga kematian karena hipoksia,” ujar Suyudi, dikutip dari Antara, Selasa (27/1/2026).

BNN mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak mencoba-coba menggunakan gas tertawa dalam bentuk apa pun. Pasalnya, efek yang terlihat sepele justru dapat meninggalkan dampak jangka panjang yang serius dan tidak dapat dipulihkan.

Baca Juga:

BNN Babel Musnahkan Narkoba Senilai Rp10.261 Miliar, Ganja Paling Banyak

Ironisnya, hingga awal 2026, gas tertawa belum masuk kategori narkotika atau psikotropika dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Zat ini juga belum tercantum dalam daftar terbaru Permenkes Nomor 7 Tahun 2025, sehingga peredarannya masih sulit dijerat dengan hukum pidana narkotika.

“Secara regulasi, Whip Pink masih legal di Indonesia, meski dampak kesehatannya sangat berbahaya,” kata Suyudi.

BNN mencatat tren global menunjukkan banyak negara mulai memperketat regulasi N2O, bahkan mengklasifikasikannya sebagai zat terlarang jika digunakan untuk tujuan rekreasi. Langkah tersebut diambil seiring meningkatnya kasus penyalahgunaan gas tertawa di kalangan remaja.

Di Indonesia, gas N2O masih bebas dijual melalui platform belanja daring dan media sosial dengan kedok alat kuliner, seperti pengisi krim kocok (whipped cream). Modus yang umum ditemukan adalah penjualan tabung kecil (whippits) yang justru dipasarkan kepada anak muda untuk tujuan mabuk.

“Penamaan seperti Whip Pink menjadi kamuflase gaya hidup yang menyesatkan. Bahkan kini beredar tabung berukuran besar yang memudahkan penyalahgunaan secara berkelompok,” ungkap Suyudi.

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

2

Cegah Zoonosis, Pemkot Bandung Gelar Vaksinasi Hingga Sterilisasi Hewan Peliharaan Gratis di Kelurahan Ciumbuleuit

3

Studio Alam Gamplong, Destinasi Perfilman Favorit di Sleman

4

Siapa Thomas Matthew Crooks Penembak Donald Trump? Terdaftar Pemilih Partai Republik

5

AC Milan Bawa Pulang Kemenangan Setelah Taklukan Como 2-1
Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City