JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – BNPB terus memperbarui data korban akibat bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, hingga Kamis (8/1/2026) pukul 14.30 WIB.
Tercatat sebanyak 1.178 orang meninggal dunia, 147 masih hilang. Hal ini berdasarkan dashboard penanganan darurat banjir dan longsor di tiga provinsi tersebut.
Selain itu, tercatat 175.126 rumah rusak di 52 kabupaten dengan rincian, 53.432 rusak berat, 45.106 rusak sedang, dan 76.588 rusak ringan.
Bencana ini juga merusak 803 rumah ibadah, 3.188 fasilitas pendidikan, 215 fasilitas kesehatan, 776 jembatan, dan 2.060 jalan.
Adapun total warga yang mengungsi mencapai 238,5 ribu orang, dengan jumlah pengungsi tertinggi di Aceh Tamiang dan Bireun.
Baca Juga:
DWP Kota Bandung Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di Sumatera
Bantu Sumatera, EIGER Adventure Salurkan 5 Ton Pakaian bagi Korban Banjir dan Longsor
Pemulihan Kegiatan Belajar Siswa
BNPB terus mendukung pemulihan kegiatan belajar mengajar bagi siswa-siswi yang berada di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh. Hal itu seperti yang terlihat di Desa Sekualan, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, pada hari Selasa (6/1/2026).
Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Lokop, sebelumnya terdampak banjir. Gedung sekolah beserta sarana dan prasarana lainnya tidak bisa lagi dipakai untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
Pihak sekolah kemudian meminta kepada pemerintah untuk diberikan sarana penunjang sekolah darurat. Merespon hal itu, BNPB bersama unsur pemerintah daerah yang meliputi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Timur dan personel TNI bergerak menuju lokasi membawa tenda peleton dan kebutuhan lainnya.
Upaya ini adalah bagian dari wujud dukungan kolaborasi antar lintas komponen bangsa dalam memulihkan kehidupan dan penghidupan masyarakat pascabencana. Meski saat ini belum benar-benar pulih dan kembali normal, namun semua bergerak bersama memenuhi dan melengkapi apa yang menjadi kebutuhan.
Pembangunan Huntara di Kabupaten Lima Puluh Kota
Aktivitas pembangunan hunian sementara (huntara) terus berlangsung di Nagari Koto Tinggi, Kabupaten Lima Puluh Kota. Sekretaris Utama BNPB, Rustian, meninjau langsung progres di lapangan untuk memastikan pembangunan huntara Limapuluh Kota dipercepat dan berjalan sesuai kebutuhan warga terdampak bencana.
Dari 12 rumah kopel atau 60 unit huntara tahap I, sebagian unit telah mencapai 50 persen pengerjaan dan ditargetkan segera dapat ditempati. Kehadiran huntara ini menjadi langkah konkret agar masyarakat memiliki tempat tinggal sementara yang layak, aman, dan mendukung keberlanjutan aktivitas sehari-hari.
Percepatan pembangunan huntara Limapuluh Kota dilakukan melalui koordinasi intensif BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, dan instansi terkait. Penyediaan material, tenaga kerja, penataan lokasi, serta pemenuhan fasilitas dasar seperti air bersih, sanitasi, dan listrik terus dioptimalkan sebagai bagian dari komitmen pemulihan pascabencana yang terukur dan berkelanjutan.










