Pro-Kontra Soal Penjurusan SMA Dihidupkan Lagi

jurusan ipa ips bahasa dihidupkan
(iStock)
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mewacanakan akan menghidupkan kembali sistem penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di Sekolah Menengah Atas (SMA) mulai tahun ajaran baru 2025/2026.

Dia menilai keputusan ini dilakukan untuk mendukung penyelenggaraan Tes Kemampuan Akademik (TKA) pengganti UN yang akan berbasis pada mata pelajaran tertentu.

Pendapat PGRI

Atas rencana penghidupan kembali penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa ini muncul berbagai opini dari berbagai kalangan.

Misalnya, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang setuju dengan keputusan ini karena menilai siswa akan mempelajari ilmu sesuai dengan minatnya.

“Harapannya agar siswa menguasai semua ilmu itu dengan baik, tapi jika tidak siap yang terjadi malah siswa tidak mendapatkan ilmu apa-apa atau hanya mendapatkan sedikit. Jadi dengan adanya penjurusan IPA, IPS dan Bahasa itu bagus agar siswa bisa mempelajari ilmu sesuai dengan minatnya dan menjadi ahli,” ujar Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi, dalam keterangan tertulis dikutip Selasa (15/4/2025).

Dalam keterangan yang sama, praktisi pendidikan, Heriyanto, mengeklaim bahwa saat penghapusan penjurusan SMA di lapangan tidak sepenuhnya dapat berjalan dengan baik.

Dia mencontohkan terkait siswa yang sebelumnya ingin menjadi dokter dan fokus mempelajari kimia dan biologi.

Akan tetapi, dirinya berubah pikiran dan memilih jurusan teknik padahal siswa tersebut tidak mengikuti pelajaran fisika, yang justru menjadi dasar penting dalam bidang teknik.

Oleh karena itu, Herianto menilai agar penjurusan dihidupkan untuk mengarahkan siswa mempelajari bidang keilmuan tertentu dengan tanpa mengecualikan kemungkinan perubahan pikiran itu terjadi.

Pendapat P2G

Di sisi lain, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menilai rencana Mendikdasmen Abdul Muti mengembalikan jurusan IPA, IPS, dan Bahasa di jenjang SMA terkesan terburu-buru. Rencana ini disebutnya tanpa didahului evaluasi menyeluruh terhadap implementasi Kurikulum Merdeka yang baru berjalan beberapa tahun.

Menurut Satriwan, menghidupkan jurusan akan menimbulkan adanya pengkastaan kembali antar jurusan, di mana IPA dianggap sebagai pilihan dan favorit dan siswa di jurusan lain dipandang sebagai pilihan sisa. Dia menyebut presepsi ini tak dapat dihindarkan karena sudah terbentuk puluhan tahun.

Selain itu, P2G juga menilai bahwa pembagian jurusan semacam ini dinilai tidak relevan dengan perkembangan dunia kerja dan ilmu pengetahuan yang kini lebih bersifat interdisipliner.

“Penjurusan tiga kelompok itu rasanya agak jadul (obsolete), akan memilah kecerdasan anak secara absolut. Padahal, tiap diri anak itu dapat punya potensi multi-intelegensia, punya minat bakat yang bersifat lintas disiplin,” kata Kabid Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri.

Lebih lanjut, perubahan ini dinilai P2G menjadi inkonsistensi kebijakan pendidikan yang kerap berubah hampir setiap pergantian menteri tanpa menyentuh persoalan-persoalan fundamental.

Menurut Iman kebijakan yang diskontinu ini dikhawatirkan akan membingungkan masyarakat dan merugikan siswa.

“Diskontinu dalam kebijakan pendidikan dapat berakibat tidak baik, sebab acuannya bukan ke RPJPN dan Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2025-2045. Menyebabkan kebingungan masyarakat, guru, siswa, dan orang tua,” ungkapnya.

BACA JUGA:

Dihapus era Nadiem, Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa Dihidupkan Kembali!

Cerminkan Ketidakadilan, Jurusan IPA, IPS dan Bahasa di SMA Diberangus!

Sebagai rekomendasi, P2G meminta Kemdikdasmen untuk lebih dulu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Kurikulum Merdeka dan tidak tergesa-gesa mengubah struktur kurikulum yang sedang berjalan.

Termasuk menyarankan agar setiap kebijakan berdasarkan pada Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2025-2045 agar ada kesinambungan jangka panjang.

(Kaje)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

2

6 Daftar Wisata, Dulu Favorit Sekarang Ditinggal Pengunjung

3

Cegah Zoonosis, Pemkot Bandung Gelar Vaksinasi Hingga Sterilisasi Hewan Peliharaan Gratis di Kelurahan Ciumbuleuit

4

Siapa Thomas Matthew Crooks Penembak Donald Trump? Terdaftar Pemilih Partai Republik

5

Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City