Polemik Utang Whoosh Jadi Bahan Bahasan Kabinet Prabowo

utang whoosh
(Setkab)
-

Tidak ada video disisipkan.

JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Presiden Prabowo Subianto berencana melakukan rapat khusus untuk membahas polemik utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tak membantah, bahwa Prabowo akan menyiapkan ruang pembahasan terkait isu tersebut bersama sejumlah menteri dan pimpinan lembaga terkait.

“Ada pembahasan khusus untuk itu (utang Whoosh),” ujar Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (29/10/2025).

Meski demikian, Airlangga belum bisa memastikan waktu pelaksanaan rapat tersebut. Ia menyampaikan bahwa jadwal pembahasan akan ditentukan langsung oleh Presiden Prabowo.

“Nanti pada waktunya (pembahasan dilakukan),” ucapnya.

Untuk diketahui, persoalan utang proyek kereta cepat Whoosh masih menjadi perhatian publik. Total biaya pembangunan proyek ini mencapai US$ 7,26 miliar atau setara Rp 119,79 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.500 per dolar AS.

Pembangunan KCJB dimulai sejak tahun 2016 dan rampung pada 2023, dengan mayoritas pendanaan berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB).

BACA JUGA:

Di Tengah Sengkarut Utang Whoosh, Jokowi Justru Sebut sebagai Keuntungan Sosial

Purbaya Respon Pernyataan Jokowi Soal Whoosh: Ada Betulnya Sedikit

Permasalahan utama saat ini terletak pada sumber pembayaran utang besar tersebut, termasuk bunga pinjaman yang diperkirakan mencapai Rp 2 triliun per tahun.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa beban utang proyek Whoosh tidak akan dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, tanggung jawab penyelesaian kewajiban tersebut berada pada Danantara, sebagai badan yang menaungi proyek KCIC.

“Utang Whoosh tidak akan ditanggung oleh APBN,” tegas Purbaya.

Sementara itu, Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus COO BPI Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa pihaknya bersama pemerintah terus mencari alternatif solusi terbaik untuk penyelesaian utang tersebut.

“Sebetulnya kita akan cari opsi terbaik. Belum tentu pakai itu (APBN) dan kami mengikuti (pemerintah) saja,” ujar Dony seusai bertemu Menkeu Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Kamis (23/10/2025).

Dalam waktu dekat, tim negosiasi yang terdiri atas perwakilan Danantara dan pemerintah Indonesia dijadwalkan kembali bertolak ke China untuk melanjutkan pembahasan restrukturisasi utang.

Salah satu poin yang menjadi bahan diskusi adalah tawaran pemerintah China untuk memperpanjang tenor pinjaman dari semula 40 tahun menjadi 60 tahun.

Langkah ini diharapkan dapat meringankan beban pembayaran proyek strategis nasional tersebut tanpa menambah tekanan terhadap keuangan negara.

(Saepul)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

2

Profil Lengkap Budi Arie Menteri Komunikasi dan Informatika

3

6 Daftar Wisata, Dulu Favorit Sekarang Ditinggal Pengunjung

4

Woodyland Eatery Kafe Baru di Bandung Mengusung Tema Magical Forest Rest!

5

Meski Matic, ini Catatan Berkesan BBM Kijang Kapsul LGX
Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City