BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Haryadi Sukamdani turut menyoroti dampak pemangkasan anggaran terhadap sektor perhotelan.
Menurutnya, pemotongan ini berpotensi menurunkan tingkat okupansi hotel secara signifikan.
“Begitu anggaran dipotong, tingkat okupansi langsung drop, bahkan di luar Jawa bisa turun lebih dari 50 persen. Pemotongan anggaran memicu ketidakpastian di industri perhotelan nasional,” kata Haryadi, mengutip PRO3 Jumat (14/2/2025).
Ia mengatakan, selain pemerintah pusat dan daerah, perusahaan BUMN juga mengurangi belanja di sektor hotel dan restoran. Hal ini mengakibatkan, pendapatan industri perhotelan berpotensi berkurang hingga Rp24 triliun secara nasional.
Menurutnya, tingginya harga tiket pesawat menjadi kendala lain yang mempersempit peluang menarik wisatawan asing. Bahkan persaingan industri penerbangan di Indonesia masih belum cukup kompetitif.
“Kami akan fokus menggarap pasar wisatawan mancanegara dan domestik. Utamanya, melalui promosi dan berbagai event,” katanya.
Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah meningkatkan eksposur Indonesia dalam pameran wisata internasional. Menurutnya, selain promosi ke luar negeri, sektor pariwisata nasional juga akan lebih digerakkan.
BACA JUGA: PDIP Dukung Efisiensi Anggaran, Hasto: Kencangkan Ikat Pinggang
PHRI dan pemangku kepentingan lainnya akan mendorong event budaya dan olahraga untuk menarik wisatawan domestik. Ia berharap, upaya ini dapat membantu industri perhotelan bangkit dari dampak pemangkasan anggaran.
“Tentunya hal ini harus dilakukan dengan strategi yang tepat. Sehingga sektor pariwisata kami harap tetap menjadi pilar penting ekonomi nasional,” ucapnya.
(Kaje/Usk)