Oedipus Complex, Pesan Tersirat di Balik Cerita Tangkuban Perahu

Oedipus Complex, Pesan Tersirat di Balik Cerita Tangkuban Perahu
Ilustrasi: Kisah percintaan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi dalam legenda Tangkuban Perahu. (tangkap layar YouTube The Lock TV tayangan film Sangkuriang)
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG,TM.ID: Cerita legenda Gunung Tangkuban Perahu yang mengisahkan tentang sosok Sangkuriang dan Dayang Sumbi, ternyata menyimpan pesan moral tentang Oedipus Complex.

Ikuti ulasannya mengenai Oedipus Complex, sebuah gejala psikologis di mana seorang anak laki-laki menyukai ibunya sendiri. Dapat dipastikan, semua agama melarang hubungan cinta antara anak dan ibu.

Legenda Tangkuban Perahu yang sudah menjadi cerita rakyat atau folklor, khususnya untuk masyarakat Jawa Barat, hendak menyampaikan pesan moral betapa terlarangnya Oedipus Complex yang dinilai sebagai penyimpangan dari kodrat sebagai manusia tersebut.

Baiklah, simak apa itu Oedipus Complex sebagaimana dijelaskan Kendra Cherry MSEd, seorang spesialis rehabilitasi psikososial, pendidik psikologi, dan penulis “Buku Psikologi Segalanya”.

Oedipus Complex atau dalam Bahasa Indonesia dinarasikan Kompleks Oedipus, juga dikenal sebagai kompleks Oedipal. Gejala ini menggambarkan perasaan seorang anak yang menyukai orang tua yang berjenis kelamin berbeda, serta kecemburuan dan kemarahan terhadap orang tua yang berjenis kelamin sama.

“Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Sigmund Freud dalam teorinya tentang tahapan perkembangan psikoseksual,” terang Kendra Cherry, dikutip dari Verywell Mind.

Sederhananya, anak laki-laki merasa bersaing dengan sang ayah untuk mendapatkan ibunya, sedangkan anak perempuan merasa bersaing dengan ibunya untuk mendapatkan kasih sayang ayahnya. Menurut Freud, anak-anak memandang orang tua sesama jenis sebagai saingan untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang orang tua lawan jenis.

BACA JUGA: Pesona Wisata Kawah Tangkuban Perahu dan Legenda Sangkuriang

Sejarah Oedipus Complex

Sigmund Freud pertama kali mengusulkan konsep Oedipus Complex dalam bukunya “The Interpretation of Dreams” pada tahun 1899. Meskipun ia baru secara resmi mulai menggunakan istilah Oedipus Complex pada tahun 1910. Konsep ini menjadi semakin penting ketika ia terus mengembangkan teorinya tentang perkembangan psikoseksual.

Freud menamai kompleks tersebut dengan nama karakter dalam “Oedipus Rex ” karya Sophocles, yang secara tidak sengaja membunuh ayahnya dan menikahi ibunya.

Dalam mitos Yunani, Oedipus ditinggalkan saat lahir sehingga tidak mengetahui siapa orang tuanya. Hanya setelah dia membunuh ayahnya dan menikahi ibunya barulah dia mengetahui identitas mereka yang sebenarnya.

Cara Kerja Oedipus Complex

Dalam teori psikoanalitik , Oedipus complex mengacu pada keinginan anak untuk terlibat secara seksual dengan orang tua lawan jenis, khususnya perhatian anak laki-laki kepada ibunya. Keinginan ini dijauhkan dari kesadaran melalui represi, tetai Freud percaya bahwa keinginan tersebut masih mempunyai pengaruh terhadap perilaku anak dan berperan dalam perkembangan.

Dalam teori Freud, kemajuan anak melalui serangkaian tahapan perkembangan psikoseksual. Pada setiap tahap, pikiran bawah sadar berpusat pada kesenangan yang berkaitan dengan wilayah tubuh tertentu.

Ketertarikan Sangkuriang terhadap ibunya, Dayang Sumbi

Dalam cerita legenda Tangkuban Perahu, dikisahkan tentang ketertarikan tokoh Sangkuriang terhadap ibunya, Dayang Sumbi.

Untuk diketahui, cerita legenda tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari Gunung Tangkuban Perahu, yang gunungnya terletak di wilayah cekungan Bandung, Jawa Barat.

Dalam legenda itu, Sangkuriang adalah sosok kesatria berparas tampan yang terpisah dengan ibunya sejak masa kecil. Selama berkelana, Sangkuriang ditemani sang ayah yang berubah wujud menjadi seekor anjing yang dinamai Si Tumang.

Ketika beranjak dewasa, sangkuriang bertemu lagi dengan sesosok perempuan cantik bernama Dayang Sumbi. Sangkuriang pun jatuh cinta kepada Dayang Sumbi.

Namun, Sangkuriang tak menyadari bahwa Dayang Sumbi adalah ibu kandungnya sendiri, sehingga ia “ngotot” ingin mempersuntingnya. Sebaliknya, Dayang Sumbi yang awalnya ada ketertarikan kepada Sangkuriang, kemudian menyadari bahwa dia adalah anaknya sendiri setelah melihat ada tanda bekas luka pada kepalanya.

Dayang Sumbi ingat betul ketika Sangkuriang masih kana-kanak, ia memukul kepalanya sehingga terluka. Oleh karena itu, Dayang Sumbi segera menyadarkan Sangkuriang bahwa dirinya adalah ibu kandung dari Sangkuriang.

Namun peringatan itu tak digubris oleh Sangkuriang yang tetap keukeuh ingin mempersuntingnya. Karena keadaan makin rumit, Dayang Sumbi pun mengajukan sebuah syarat yang tak mungkin dilakukan Sangkuriang.

Syarat tersebut adalah, Sangkuriang harus membuat danau hanya dalam waktu semalam dan ingin berlayar di atas perahu. Apabila terlambat meski baru terbit fajar, maka Sangkuriang harus mengubur keinginannya.

Upaya Sangkuriang membuat danau dan perahu itu ternyata tak memenuhi target waktu meski sudah dibantu oleh pasukan demit. Kegagalan ini membuat Sangkuriang frustasi yang dilapiaskan dengan menendang perahu setengah jadi yang telah dibuatnya.

Perahu itupun terlempar dan jatuh dengan posisi terbalik atau “nangkub” dalam bahasa Sunda. Perahu terbalik inilah yang kemudian disematkan untuk legenda gunung Tangkuban Parahu oleh masyarakat Sunda.

Apabila ditarik kesimpulan, cerita Sangkuriang, Dayang Sumbi, dan Tangkuban Parahu, tak lepas dari pesan moral bahwa keinginan menjalin cinta dengan ibu kandung sendiri atau dalam istilah psikologi ilmiah sebagai Oedipus Complex, adalah sesuatu yang dilarang, dan tak akan direstui oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Sehingga, segala upaya Sangkuriang dihadapkan pada kegagalan.

 

(Aak)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
WhatsApp Image 2026-07-15 at 19.50
Ketua DPRD Kota Bekasi Jadi Narasumber Kajian Lemhannas RI, Soroti Pentingnya Aspirasi Generasi Muda dalam Politik
WhatsApp Image 2026-07-15 at 15.48
DPRD Kota Bekasi Soroti TPP PPPK 2025, Desak Kejelasan Janji Kenaikan Tunjangan
WhatsApp Image 2026-07-13 at 15.24
Banggar DPRD Kota Bekasi Bahas Tindak Lanjut LHP BPK dan Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025
WhatsApp Image 2026-07-13 at 15.03
NPCI Kota Bekasi Jajaki Sinergi dengan DPRD, Matangkan Persiapan Menuju PEPARPROV VII Jabar 2026
bank bjb ORI030
bank bjb Hadirkan ORI030, Pilihan untuk Membangun Masa Depan Lebih Sejahtera
Berita Lainnya

1

Prediksi Skor Hamburger SV vs Bayer Leverkusen Bundesliga 2025/2026, Duel Krusial di Volksparkstadion

2

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

3

Brace Cristiano Ronaldo Warnai Kemenangan Al Nassr atas Al Gharafa di Liga Champions Asia

4

6 Daftar Wisata, Dulu Favorit Sekarang Ditinggal Pengunjung

5

Titi DJ & Thomas Djorghi Rilis Duet Bertemu 5000 Detik
Headline
IMG-20260718-WA0005
Ketua DPRD Kota Bekasi Hadiri Raker dan Halal Bihalal Sahabat MUI, Dorong Dakwah Kolaboratif untuk Kota yang Harmonis
Lamine Yamal
Spanyol Lanjutkan Dominasi atas Prancis, Tiga Kemenangan Beruntun Antar La Furia Roja ke Final Piala Dunia 2026
Spanyol
Prediksi Skor Spanyol vs Belgia: La Roja Andalkan Tembok Kokoh, The Red Devils Siap Beri Kejutan
WhatsApp Image 2026-07-09 at 18.58
Farhan: Pendapatan Daerah Kota Bandung 2025 Capai Rp3,79 Triliun