BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa perekonomian Indonesia memiliki fondasi yang cukup kuat untuk tidak bergantung pada kondisi ekonomi global. Kekuatan utama tersebut, menurutnya, terletak pada besarnya permintaan domestik yang menopang sekitar 90 persen struktur ekonomi nasional.
Dalam orasi ilmiah pada Wisuda Universitas Indonesia (UI), Sabtu (14/2/2026), Purbaya menyoroti munculnya narasi pesimisme akibat ketidakpastian ekonomi dunia. Ia menyebut sebagian pihak cenderung membangun asumsi suram tentang masa depan masyarakat dan menggambarkan kondisi Indonesia sebagai “gelap”.
Namun, Purbaya justru menilai pandangan tersebut tidak berpijak pada struktur ekonomi riil Indonesia.
“Permintaan dalam negeri itu sekitar 90 persen, global hanya 10 persen. Kalau yang 10 persen bermasalah, kita kuatkan yang 90 persen. Harusnya kita masih baik-baik saja. Intinya, jangan takut, nasib kita di tangan kita sendiri,” tegasnya.
Baca Juga:
Reaktivasi BPJS, Menkeu Purbaya Siap Cairkan Rp15 Miliar
Ia juga mengkritik minimnya peran kalangan ekonom dalam mengedukasi publik tentang kekuatan ekonomi domestik tersebut, sehingga persepsi publik lebih mudah terpengaruh isu global.
Dalam kesempatan itu, Purbaya mengajak generasi muda, khususnya para wisudawan UI, untuk mengambil peran strategis dalam mengelola dan memperkuat permintaan dalam negeri sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kalau kalian pintar-pintar mengurus permintaan domestik, meskipun ekonomi global gonjang-ganjing, kita tetap bisa jalan. Jangan takut,” ujarnya.
Lebih jauh, Purbaya menyampaikan optimismenya terhadap prospek jangka panjang ekonomi Indonesia. Ia menegaskan bahwa Indonesia saat ini tengah berada dalam fase percepatan pertumbuhan hingga 2033, bagian dari siklus alami ekonomi atau business cycle.
Menurutnya, Indonesia sempat mengalami fase resesi pada 2020, kemudian memasuki fase ekspansi kembali sejak 2023. Jika dikelola dengan tepat, fase ekspansi ini bisa berlangsung panjang sebelum terjadi perlambatan berikutnya.
“Kalau kita pintar mengelolanya, ekspansi ini bisa bertahan sampai 2033 sebelum ekonomi melambat lagi,” jelasnya.
Purbaya juga menyebut potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 6,7 hingga 7 persen. Dengan angka tersebut, Indonesia dinilai mampu menyerap tenaga kerja baru yang terus bertambah setiap tahun.
Namun, ia mengingatkan bahwa untuk benar-benar menjadi negara maju, pertumbuhan tinggi harus dijaga dalam jangka panjang.
“Lihat Korea, Jepang, China, Amerika, Jerman. Untuk menjadi negara maju, Anda harus tumbuh tinggi, bahkan dua digit, dalam waktu lebih dari 10 tahun,” tukasnya.











