Menapaki Waktu di Kampung Adat Ciptagelar, Desa yang Tetap Berdetak dalam Irama Leluhur

Kampung Adat Ciptagelar
Upacara seren taun di Kampung Adat Ciptagelar Sukabumi (Foto: Kemenpar).
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Di tengah perbukitan hijau Sukabumi, sekitar 28 kilometer dari hiruk-pikuk Pelabuhan Ratu, sebuah kampung berdiri seolah tak tersentuh oleh waktu. Kampung Adat Ciptagelar atau yang akrab disebut Tatanan Kasepuhan Ciptagelar, bukan sekadar sebuah destinasi, melainkan ruang hidup sebuah masyarakat yang setia menjaga laku Sunda sejak lebih dari lima abad lalu.

Begitu memasuki kawasan Kampung Sukamulya, Desa Simaresmi, Cisolok, pengunjung disambut suasana yang terasa berbeda. Angin membawa aroma kayu, tanah basah, dan padi yang menguning, bunyi percakapan lembut dalam bahasa Sunda kuno seakan memanggil kembali pada masa ketika kehidupan berjalan pelan, mengikuti alam dan petuah leluhur.

Kasepuhan ini dihuni sekitar 29 ribu warga yang hidup dari tanah yang mereka garap sendiri. Pertanian bukan sekadar mata pencaharian, melainkan denyut kehidupan. Di sini, padi bukan hanya bahan pangan, tetapi pusaka “indung hurip” yang dihormati seperti nyawa.

Tidak heran sistem ketahanan pangan mereka telah menjadi perhatian banyak peneliti dan wisatawan mancanegara. Mereka menolak pestisida, tetap setia pada pupuk organik, dan memanen seperlunya. Melimpahnya beras disimpan dengan cermat dalam lumbung tradisional, memastikan masyarakatnya tidak pernah kekurangan.

Baca Juga:

Desa Selasari Raih Juara Harapan II Desa Wisata Terbaik Berbasis Alam di Wonderful Indonesia Awards 2025

Masyarakat Ciptagelar percaya bahwa hidup harus selaras dengan alam. Keyakinan ini diwariskan sejak pendirinya, Pangeran Raksabumi, putra Prabu Siliwangi, yang membangun kampung ini pada abad ke-16. Hingga hari ini, masyarakatnya tetap mengenakan pakaian adat Sunda dalam keseharian, tetap berbahasa Sunda kuno, dan tetap menjalani tata kehidupan yang jauh dari gaya hidup modern.

Meski bukan tempat wisata dalam arti komersial, Ciptagelar tak pernah sepi tamu. Setiap tahun ribuan orang datang, baik dari kota-kota besar Indonesia maupun dari berbagai negara, untuk menyaksikan kekayaan budaya yang tetap hidup di kampung ini. Setidaknya ada 30 rangkaian upacara adat yang mengatur ritme kehidupan masyarakat dari kelahiran hingga kematian.

Namun puncak dari segala ritual adalah Seren Taun, upacara syukur panen padi yang digelar antara November hingga Desember. Pada hari itu, Ciptagelar berubah menjadi panggung hikmat dan sukacita. Musik tradisional bergema, para sesepuh menyampaikan petuah, dan masyarakat berkumpul untuk menghaturkan rasa terima kasih kepada alam.

Bagi banyak pengunjung, Seren Taun bukan hanya pertunjukan budaya, melainkan pengalaman spiritual yang membekas lama setelah mereka kembali ke rumah.

Di saat banyak desa adat perlahan berubah atau menghilang, Ciptagelar tetap setia pada dirinya sendiri. Kampung ini berdiri sebagai bukti bahwa nilai-nilai leluhur, jika dirawat dengan cinta dan rasa tanggung jawab bisa terus hidup di tengah perubahan zaman.

Kampung Adat Ciptagelar bukan hanya kekayaan budaya Indonesia, ia adalah suara masa lalu yang masih berbisik lembut di telinga dunia.

(Budis)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260721-WA0006
DPRD Kota Bekasi Minta Dinkes Perketat Pengawasan Puskesmas Usai Dua Kasus Pelayanan Kesehatan
IMG-20260721-WA0003
PLN UP3 Majalaya Perkuat Keandalan Listrik Jelang Piala Presiden 2026, Wujud Komitmen Melayani Negeri pada HUT ke-81 RI
tangerang-10k
Menabung di bank bjb Semakin Mudah Dapatkan Tiket Lari Tangerang 10K
WhatsApp Image 2026-07-20 at 12.15
Kasus Judi Online di Bojongloa Kaler Tinggi, Farhan: Penanganan Dimulai dari Keluarga
WhatsApp Image 2026-07-20 at 21.01
KDS Instruksikan OPD dan PDAM Bergerak Cepat Atasi Dampak Kekeringan
Berita Lainnya

1

Profil Lengkap Budi Arie Menteri Komunikasi dan Informatika

2

AC Milan Bawa Pulang Kemenangan Setelah Taklukan Como 2-1

3

Jadwal Adzan Magrib Lombok Hari Ini 17 Maret 2025

4

Siapa Thomas Matthew Crooks Penembak Donald Trump? Terdaftar Pemilih Partai Republik

5

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!
Headline
IMG-20260721-WA0005
Ketua DPRD Kota Bekasi Lantik Empat Organisasi Pelajar, Dorong Generasi Muda Jadi Agen Perubahan
IMG-20260720-WA0002
Komisi II DPRD Kota Bekasi Tinjau Pembangunan Wisata Air Kalimalang, Pastikan Berjalan Sesuai Perencanaan
IMG-20260720-WA0001
Komisi III DPRD Kota Bekasi Tinjau Aset PDAM dan Evaluasi Kinerja PT Migas untuk Optimalkan PAD
IMG-20260719-WA0002
DPRD Kota Bekasi Susun Agenda Strategis Melalui Rapat Badan Musyawarah