BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Upaya mengubah limbah tambang menjadi peluang ekonomi dilakukan mahasiswa Universitas Jember (Unej). Melalui kolaborasi lintas disiplin, mahasiswa Teknik Mesin dan Teknik Pertambangan Unej menginisiasi pemanfaatan limbah batu gamping menjadi pupuk organik bernilai jual, yang diharapkan mampu menekan biaya produksi pertanian sekaligus membuka lapangan usaha baru di pedesaan.
Inovasi tersebut diwujudkan dalam bentuk Mesin Granulator Pupuk Organik yang dirancang khusus untuk mengolah limbah batu gamping, material yang selama ini hanya dihargai sekitar Rp100 per kilogram menjadi pupuk siap pakai bagi petani. Program ini diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus mendorong perputaran ekonomi lokal di Desa Grenden, Kecamatan Puger.
Dosen Teknik Pertambangan Unej, Rina Lestari, menyebutkan bahwa persoalan rendahnya nilai ekonomis limbah tambang menjadi titik awal pengembangan inovasi ini. Limbah yang sebelumnya menumpuk tanpa manfaat kini berpotensi menjadi komoditas produktif jika diolah dengan pendekatan teknologi tepat guna.
“Dengan teknologi sederhana dan biaya terjangkau, limbah ini bisa diubah menjadi pupuk yang dibutuhkan petani. Harapannya, petani tidak lagi bergantung penuh pada pupuk kimia yang mahal,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Unej, Rabu (4/2/2026).
Baca Juga:
Sampah Plastik Terdeteksi Otomatis, Inovasi Mahasiswa UNAIR Raih Best Presentation
Untuk memastikan pupuk yang dihasilkan tetap memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman, batu gamping dikombinasikan dengan bahan organik seperti kotoran sapi fermentasi dan molase. Racikan ini menghasilkan pupuk organik granul yang lebih mudah diaplikasikan dan ramah lingkungan.
Dari sisi produksi, mahasiswa Teknik Mesin Unej merancang mesin granulator yang mampu digunakan oleh skala UMKM dan kelompok tani. Mesin ini menggabungkan proses pencampuran dan pembentukan granul dalam satu unit, sehingga efisiensi produksi dapat ditingkatkan tanpa membutuhkan peralatan mahal.
Mahasiswa Teknik Mesin Unej, Iwan Ahmad, mengatakan inovasi ini tidak hanya ditujukan sebagai proyek akademik, tetapi juga sebagai embrio usaha berbasis teknologi kampus. “Kami ingin mesin ini bisa dimanfaatkan masyarakat, diproduksi massal oleh UMKM, dan menjadi solusi nyata bagi petani,” ujarnya.
Ke depan, tim berharap pupuk hasil inovasi ini segera memperoleh izin edar agar dapat dipasarkan lebih luas. Jika terealisasi, program ini diyakini mampu memperkuat ekonomi desa, menciptakan lapangan kerja baru, serta menjadi contoh konkret peran perguruan tinggi dalam menyelesaikan persoalan lingkungan dan pangan secara berkelanjutan.











