Padel Mendadak Tren di Indonesia, Swedia Malah Tutup Ratusan Lapangan

Olahraga Padel. lapangan padel jakarta
Ilustrasi Olahraga Padel (Freepik)
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Padel, olahraga yang kini tengah trending di Indonesia, ternyata sudah lebih dulu populer di Swedia. Namun, bukannya bertahan lama, olahraga ini justru menghadapi krisis besar setelah euforia mereda.

Swedia, yang sempat disebut sebagai “rumah kedua padel” karena pertumbuhan pesatnya, kini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah tren instan bisa meroket cepat, lalu runtuh seketika.

Viral di Swedia

Pada 2020 hingga 2021, padel benar-benar meledak di Swedia. Jumlah lapangan melonjak dari sekitar 1.500 di awal 2020 menjadi lebih dari 3.500 hanya dalam setahun. Popularitasnya bahkan membuat padel sempat dijuluki sebagai “olahraga nasional baru.”

Investor pun berbondong-bondong masuk, yakin padel akan menjadi bisnis emas jangka panjang. Hingga 2024, total 4.200 lapangan tercatat tersebar di seluruh negeri.

Namun, sejak 2022 tanda-tanda masalah mulai terlihat. Ekspansi besar-besaran tanpa kendali berbalik arah menjadi bumerang:

  1. Tahun 2023, lebih dari 90 perusahaan padel dinyatakan bangkrut.
  2. Memasuki 2024, industri menghadapi kelebihan kapasitas lapangan.
  3. Minat masyarakat menurun drastis, membuat lapangan kosong di luar jam sibuk.

Dengan biaya sewa gedung dan listrik tetap tinggi, banyak pengelola tak mampu bertahan. Ratusan lapangan pun ditutup permanen, sementara puluhan perusahaan olahraga gulung tikar.

Baca Juga: 

Indonesia Bentuk Timnas Padel Pertama, Seleknas Digelar di Jakarta

Daftar Tempat Padel di Bandung, Alamat dan Harga Lengkap!

Lapangan Padel di Swadia

Per April 2024, padel di Swedia masih tercatat memiliki 1.050 klub dengan 4.200 lapangan serta sekitar 700.000 pemain aktif. Namun, gelombang penutupan fasilitas terus berlanjut.

Klub besar seperti “Time 4 Padel” di Gothenburg, yang mengoperasikan 19 lapangan, terpaksa menutup aktivitasnya pada akhir 2024. Hingga kini, lebih dari 600 lapangan padel di berbagai kota dibongkar akibat biaya operasional yang tinggi dan animo bermain yang kian menurun.

Meski menghadapi kemunduran besar, padel di Swedia tidak sepenuhnya mati. Masih ada komunitas pemain aktif yang berusaha menjaga keberlangsungan olahraga ini, meskipun pamornya sudah tak lagi sekuat masa pandemi.

(Hafidah Rismayanti/Budis)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260724-WA0004
PLN UP3 Majalaya Dukung Gerakan Jum'at ASRI, Perkuat Semangat Gotong Royong Jelang HUT ke-81 RI
bank bjb Imbau Nasabah Untuk Tetap Waspadai Modus Penipuan Digital, Pastikan Berkomunikasi Melalui Kanal Resmi
bank bjb Imbau Nasabah Untuk Tetap Waspadai Modus Penipuan Digital, Pastikan Berkomunikasi Melalui Kanal Resmi
WhatsApp Image 2026-07-22 at 11.48
Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung Hadirkan HANA Japanese Pop Up Kitchen, Pengalaman Bersantap Omakase Eksklusif
IMG-20260721-WA0006
DPRD Kota Bekasi Minta Dinkes Perketat Pengawasan Puskesmas Usai Dua Kasus Pelayanan Kesehatan
IMG-20260721-WA0003
PLN UP3 Majalaya Perkuat Keandalan Listrik Jelang Piala Presiden 2026, Wujud Komitmen Melayani Negeri pada HUT ke-81 RI
Berita Lainnya

1

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

2

Woodyland Eatery Kafe Baru di Bandung Mengusung Tema Magical Forest Rest!

3

4

AC Milan Bawa Pulang Kemenangan Setelah Taklukan Como 2-1

5

Cegah Zoonosis, Pemkot Bandung Gelar Vaksinasi Hingga Sterilisasi Hewan Peliharaan Gratis di Kelurahan Ciumbuleuit
Headline
IMG-20260724-WA0010
Ketua DPRD Bekasi Ingatkan WTP Bukan Akhir, Pengawasan Internal Harus Diperkuat
IMG-20260724-WA0009
Topananda: Bekasi Butuh Program Pemuda yang Berkelanjutan, Bukan Sekadar Seremonial
IMG-20260723-WA0002
DPRD Kota Bekasi Percepat Pembahasan Raperda Pencegahan Penyimpangan Seksual
IMG-20260723-WA0001
Abdul Muin Serap Aspirasi Warga, Banjir hingga Kesempatan Kerja Jadi Perhatian