JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Usia boleh bertambah, tubuh bisa lelah, cedera datang silih berganti. Namun bagi Yolla Yuliana, menyerah bukan pilihan yang mudah diambil. Di tengah statusnya sebagai pemain tertua di skuad Jakarta Livin Mandiri untuk Proliga 2026, atlet voli putri nasional itu menegaskan belum kepikiran untuk pensiun.
Di usia 30-an, Yolla justru merasa sedang berada dalam fase paling jujur dalam kariernya. Bukan lagi soal membuktikan diri ke orang lain, melainkan pertarungan sunyi melawan dirinya sendiri.
“Di hati sendiri itu memacu. Bisa kok ayo lawan diri kamu. Cedera dikit bisa kok. Jadi ada pertandingan di dalam diri sendiri, antara pengen sudah atau lanjut,” ujar Yolla di Jakarta, Senin (22/12/2025).
Kalimat itu menggambarkan pergulatan seorang atlet senior yang telah melewati banyak musim, banyak klub, dan banyak luka, tetapi masih memilih berdiri di lapangan.
Tantangan Baru Bernama Jakarta Livin Mandiri
Proliga 2026 menjadi babak baru dalam perjalanan Yolla. Setelah sebelumnya memperkuat Jakarta Popsivo Polwan, ia kini memilih bergabung dengan Jakarta Livin Mandiri. Keputusan itu bukan tanpa alasan.
Bagi Yolla, pindah klub adalah cara untuk menjaga api tetap hidup. Warna baru, keluarga baru, dan tantangan baru menjadi bahan bakar motivasinya.
“Setiap tahun juga mencoba warna baru, mencoba keluarga baru. Kebetulan memang berjodohnya tahun ini dengan Livin Mandiri. Saya melihat Livin Mandiri sudah seserius itu meminang, jadi mencoba tim baru,” katanya.
Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa Yolla belum ingin menutup lembar kariernya. Ia justru ingin menguji dirinya di lingkungan yang berbeda.
Sendirian di Usia 30-an, Dikelilingi Generasi Belia
Di Jakarta Livin Mandiri, Yolla menghadapi realitas yang tak bisa dihindari. Ia kini menjadi yang paling senior, dikelilingi pemain-pemain muda dengan usia yang bahkan masih belasan tahun.
“Ada yang 14 tahun, ada yang 17 tahun, jadi saya yang 30-an sendiri,” ucap Yolla sambil tertawa kecil.
Namun alih-alih merasa terbebani, situasi itu justru membangkitkan semangatnya. Energi para pemain muda dengan mental membara menjadi sesuatu yang ia anggap penting untuk tim.
“Kalau dilihat, mental pemain muda biasanya membara. Itu yang dibutuhkan Mandiri. Kalau kebanyakan senior biasanya kurang berapi-api,” katanya.
Bagi Yolla, perpaduan pengalaman dan keberanian anak-anak muda bisa menjadi senjata Jakarta Livin Mandiri di Proliga 2026.
Baca Juga:
Tak Sekadar Podium, SEA Games 2025 Jadi Titik Awal Regenerasi Timnas Voli Putri Indonesia
Beban Bernama Grand Final
Nama Yolla Yuliana sudah lama identik dengan panggung tertinggi Proliga. Sejak kompetisi kembali bergulir pascapandemi COVID-19, ia kerap dianggap sebagai jimat yang membawa timnya ke babak grand final.
Namun predikat itu bukan tanpa harga. Yolla mengakui label tersebut justru menjadi tekanan tersendiri, terlebih ketika Jakarta Livin Mandiri masih harus berjuang menembus Final Four.
“Predikat grand final itu memang sudah melekat, dan itu jadi beban buat saya pribadi. Apalagi Livin Mandiri lagi mencari tiket Final Four dulu,” ujarnya.
Meski begitu, ia menyadari setiap pemain membawa beban masing-masing. Dan sebagai pemain senior, ia memilih memikulnya dengan kepala tegak.
Soal Ban Kapten dan Posisi di Lapangan
Terkait kemungkinan kembali dipercaya sebagai kapten tim, Yolla mengaku belum mengetahui arah kebijakan klub. Hingga kini, belum ada keputusan resmi dari Jakarta Livin Mandiri.
Yang pasti, pada Proliga 2026, Yolla akan tetap mengisi peran yang sudah lekat dengan namanya: middle blocker. Posisi itu telah menjadi identitasnya, baik di level klub maupun tim nasional.
Di tengah usia, cedera, tekanan, dan ekspektasi publik, Yolla Yuliana masih memilih bertarung. Bukan sekadar untuk menang, tetapi untuk membuktikan bahwa semangat seorang atlet tak selalu ditentukan oleh angka usia.











