BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Pameran fotografi “Invisible Stories” yang diselenggarakan oleh Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Halim Sanusi di Bandung Creative Hub berhasil menyita perhatian pengunjung, Rabu (11/2/2026). Dengan mengangkat tema profesi-profesi tersembunyi yang kerap luput dari sorotan masyarakat, pameran ini menawarkan perspektif baru tentang kehidupan di balik kesibukan kota.
48 Foto, Ribuan Cerita Tersembunyi
Sebanyak 48 karya fotografi dipamerkan dalam acara yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB hingga selesai ini. Pameran yang terbuka untuk umum ini tidak hanya menampilkan visualisasi profesi non-formal, tapi juga menghadirkan cerita-cerita di balik setiap jepretan kamera.
“Ini tuh pameran fotografi, kita punya tema invisible stories, yaitu mengangkat kisah-kisah tersembunyi di balik berbagai profesi,” ungkap Fatimah Khoironnisa (21) salah satu panitia saat diwawancarai di lokasi pameran, Rabu (11/2/2026).
Antusiasme Lintas Generasi
Hingga siang hari, tercatat sekitar 40 pengunjung telah hadir di pameran ini, belum termasuk 40 orang dari tim panitia. Yang menarik, pengunjung tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa, tapi juga lintas angkatan, media, bahkan masyarakat umum dari luar lingkup universitas.
Naufal Al Ghifari (21), salah satu pengunjung, mengaku tertarik hadir karena kecintaannya pada fotografi. “Suka fotografi, dan hal-hal yang berkaitan di dalamnya. Terus, melihat tema ataupun judul yang disajikan pun menarik. ‘Invisible Stories’ bisa menarik pengunjunglah, pengen tahu pamerannya tentang apa,” tuturnya.
Baca Juga:
Mahasiswa DKV UNIBI Pamerkan Karya Terbaik di Pameran Portofolio “Luminositas”
Di Balik Topeng Badut: Realita yang Menyentuh
Dari sekian banyak karya yang dipamerkan, foto seorang badut jalanan menjadi salah satu yang paling berkesan bagi Naufal. Foto tersebut memperlihatkan seorang badut yang sehari-hari menghibur di lampu merah, lengkap dengan anak yang dibawanya.
“Karena, masyarakat pun bisa tahu bahwa dibalik topengnya yang sehari-hari di jalan, terlihat ceria harus menghibur orang-orang, ternyata dibalik layar itu ada anak-anak yang harus dinafkahi, yang harus dikasih makan. Makanya menurut saya, itu jadi salah satu karya yang berkesan,” jelasnya dengan penuh penghayatan.
Tantangan Muslimah Bercadar di Dunia Kuliner
Salah satu panitia juga berbagi tentang karya foto yang menyoroti seorang muslimah bercadar yang bekerja di bidang Food & Beverage (F&B), khususnya di bagian dapur.
“Yang mana sebenarnya ketika saya wawancarai, beliau ini itu memiliki tantangan yang sangat besar. Karena di dunia F&B khususnya di bagian dapur itu biasanya mengenakan pakaian yang justru tidak terlalu tertutup seperti ini. Dan beliau bisa tetap bertahan dengan keyakinan beliau untuk melakukan profesi beliau. Namun tetap profesional di bidangnya,” ungkap panitia.
Dua Bulan Persiapan, Satu Tujuan Mulia
Pameran ini tidak terlepas dari persiapan matang selama dua bulan. Berawal dari tugas mata kuliah, pameran ini kemudian berkembang menjadi bentuk nyata dari konsep kampus berdampak.
“Untuk terjun ke masyarakat, kita melihat realitas sosial yang ada di masyarakat seperti apa. Kita membaca emosi, kita membaca pesan sosial yang disampaikan,” jelas panitia mengenai proses kreatif yang dilakukan.
Menginspirasi dan Membuka Mata
Kesan yang ditinggalkan pameran ini pun luar biasa. Naufal mengaku sangat terkesan dengan konsep yang diusung.
“Kalau kesan, tentu sangat amaze (amazing) lah bisa dibilang. Karena, di tengah-tengah banyaknya profesi yang diidam-idamkan oleh semua orang. Profesi yang begitu banyak terkenal. Entah itu kerja di BUMN, jadi PNS, dan segala macamnya. Pameran ini justru mengangkat hal-hal yang jarang disorot, dari profesi-profesi yang sebetulnya itu jadi salah satu pendukung dari elemen kehidupan,” paparnya.
“Bahwa kehidupan itu nggak akan jalan, kalau misalkan profesi-profesi yang divisualisasikan di sini itu tidak dipotret dan dipamerkan. Jadi, sangat-sangat menginspirasi juga buat para pengunjung, bahwa ternyata banyak loh profesi yang memang harusnya kita tahu, dan harusnya jadi sorotan juga selain profesi-profesi yang selama ini kita kenal,” tambahnya.
Hapus Pandangan Sebelah Mata
Penyelenggara memiliki harapan besar agar pameran ini bisa menjangkau hingga 200 pengunjung atau bahkan lebih. Namun, lebih dari sekadar angka, harapan terbesar adalah mengubah persepsi masyarakat.
“Pengennya yang berkunjung bukan hanya dari mahasiswa saja tapi bahkan dari masyarakat pun yang menjalani profesi-profesi yang non formal ini. Sehingga mereka bisa tidak berkecil hati ketika mereka menjalankan profesi yang non formal,” ungkap panitia dengan penuh harap.
“Keinginan serta harapannya bisa menghapuskan pandangan sebelah mata masyarakat yang tidak mengerti, bahwa pekerjaan non formal ini berharga juga, bermakna juga, dan sama-sama memiliki nilai. Jadi bukan hanya sekedar pekerjaan formal yang terlihat mata,” pungkasnya.
Pameran “Invisible Stories” ini bukan hanya sekadar ajang memamerkan karya fotografi. Lebih dari itu, pameran ini adalah jendela untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda, mengajak kita semua untuk lebih menghargai setiap profesi yang ada, tidak peduli seberapa “tersembunyi” mereka di mata masyarakat.
(Magang UIN Bandung/Adit Ramadhan)











