JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Gelombang protes yang terjadi di Nepal, berujung pada kerusuhan berdarah , menjadi perhatian luas dunia. Menurut Pegiat Media Sosial Tifauzia Tyassuma alias (Dokter Tifa) mengingatkan, peristiwa itu harus menjadi kewaspadaan bagi para pejabat Indonesia beserta keluarga yang hobinya flexing atau hedonis.
“Peristiwa NEPAL harus menjadi ALARM pejabat-pejabat dan anak-anak pejabat INDONESIA yang hobby flexing dan gaya hidup hedon,” cuit Dokter Tifa di akun X @DokterTifa dikutip Sabtu (13/9/2025).
Ia berharap, kejadian serupa sama sekali tidak terjadi di Indonesia. Sehingga, ia mengingatkan, jangan memantik kemarahan rakyat.
“Jangan sampai kejadian serupa terjadi di sini gara-gara kalian tidak mampu menahan hawa nafsu mempertontonkan kemewahan hidup kalian yang diperoleh dari uang pajak yang dibayar rakyat dengan darah dan keringat ke media sosial,” pungkasnya.
BACA JUGA:
Usai Dicopot Prabowo dari Menkop, Jokowi Bakal Temui Budi Arie
Diberitakan sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) memastikan warga negara Indonesia (WNI) di Nepal dalam kondisi aman di tengah aksi demonstrasi besar-besaran dari puluhan ribu anak muda yang terjadi di Nepal sejak Senin (8/9/2025) waktu setempat.
Direktur Pelindungan WNI Kemenlu Judha Nugraha menyampaikan, pihaknya terus berkoordinasi dengan KBRI Dhaka yang diakreditasikan ke Nepal, Konsul Kehormatan RI di Nepal, serta berbagai pihak lainnya terkait Indonesia di negara itu guna memastikan keselamatan WNI yang ada di negara pegunungan tersebut.
“Hingga saat ini tidak ada informasi adanya WNI yang menjadi korban kerusuhan tersebut,” kata Judha menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta, dikutip dari Antara.
Ia meminta para WNI yang sedang berkunjung atau berwisata di Nepal segera melapor ke layanan hotline KBRI Dhaka.
Menurut data KBRI Dhaka, ada 57 WNI yang menetap di Nepal, 43 anggota delegasi RI yang mengikuti konferensi internasional di Kathmandu, dua anggota TNI yang sedang mengikuti pelatihan, serta 23 wisatawan WNI. Semua dipastikan dalam keadaan aman.
“Semua dipastikan dalam keadaan aman,” pungkas Judha singkat.
Sebagai informasi, aksi demonstrasi generasi Z di Nepal dipicu oleh kebijakan pemerintah Nepal yang sebelumnya memblokir 26 situs media sosial, termasuk WhatsApp, Facebook, Instagram, LinkedIn, dan YouTube.
Keputusan pemerintah tersebut kemudian memicu puluhan ribu pemuda di Nepal untuk turun ke jalan, berunjuk rasa menuntut pencabutan larangan sekaligus meneriakkan tuduhan praktik korupsi para elite politik Nepal.
Aksi unjuk rasa di Kathmandu pada Senin (8/9/2025) kemudian berujung ricuh, bentrokan pecah ketika pengunjuk rasa menerobos barikade dan mencoba menyerbu gedung parlemen serta membakar gerbang gedung tersebut. Hingga Rabu (10/9/2025) setidaknya 22 orang dilaporkan menjadi korban jiwa sejak kerusuhan terjadi.
(Saepul)











