BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Grand Prix Singapura 2025 kembali menghadirkan bumbu panas di lintasan malam Marina Bay. Kali ini, Fernando Alonso menjadi pusat perhatian bukan hanya karena aksinya di lintasan, tapi juga karena sindiran pedasnya terhadap Isack Hadjar, pebalap muda Racing Bulls yang dianggap terlalu ngotot mempertahankan posisi meski mobilnya bermasalah.
Alonso, yang dikenal dengan kecerdasan taktis dan lidah tajamnya, dua kali harus berduel dengan Hadjar. Pertama di lap ketiga untuk perebutan posisi kedelapan, di mana Alonso menyalip lewat manuver bersih di tikungan tajam. Namun duel kedua di lap ke-37 menjadi sumber frustrasi.
Saat itu, Hadjar mengalami gangguan mesin dan kehilangan tenaga keluar dari Tikungan 3. Meski jelas kesulitan, pebalap berusia 21 tahun itu tetap mencoba menutup ruang. Alonso, yang terjebak di belakangnya selama dua putaran, kehilangan waktu hampir lima detik, cukup untuk membuatnya keluar dari ritme balapan.
Tak lama kemudian, Alonso melontarkan komentar sarkastis yang langsung viral di radio tim.
“Ya, hero of the race!” katanya dengan nada sinis yang tajam.
Komentar itu disampaikan dengan nada khas Alonso yang tenang, tapi penuh ironi. Dalam dunia F1, ucapan seperti itu bukan sekadar lelucon, melainkan tamparan halus yang terasa panas.
Usai balapan, Alonso mencoba meredam tensi, namun tetap mempertahankan kritiknya terhadap Hadjar.
“Saya pikir dia mengalami sedikit masalah mesin, dari yang saya pahami, di trek lurus dia sangat lambat,” ujar pebalap berusia 44 tahun itu melansir Formula1, Rabu (8/10/2025).
“Terkadang dalam beberapa pertarungan, kita harus tahu kapan waktunya bertarung dan kapan lebih baik melepas. Kalau tidak, hasilnya bisa lebih buruk bagi kami berdua, terutama untuknya,” kata Alonso.
Baca Juga:
Bos Mercedes Nilai Kans Max Verstappen Rebut Gelar Juara Dunia Formula 1 2025 Masih Ada, Tapi Tipis
Lalu ia menambahkan dengan nada yang masih terasa menyengat.
“Saya tahu ini Singapura, semua orang ingin tampil garang. Tapi ada perbedaan antara berjuang keras dan membahayakan hasil sendiri. Dia ingin jadi pahlawan, tapi justru membuat kami kehilangan waktu,” tukasnya.
Kalimat terakhir itu seolah mempertegas bahwa Alonso tak sekadar kesal, ia ingin mengirim pesan kepada generasi muda F1 bahwa agresivitas tanpa perhitungan bisa jadi bumerang.
Tak mau dianggap salah, Isack Hadjar memberikan respons yang tak kalah tajam.
“Saya tidak mendorongnya keluar lintasan. Saya menjaga semuanya tetap bersih. Kalau dia tidak menikmati pertarungan itu, berarti dia benar-benar pemarah dan saya tidak bisa melakukan apa pun untuknya,” tegas Hadjar.
Balasan itu membuat percikan rivalitas antar-generasi semakin jelas. Di satu sisi, Alonso mewakili pengalaman dan perhitungan matang.
Di sisi lain, Hadjar mencerminkan ambisi dan keberanian khas pebalap muda yang ingin membuktikan diri di antara para legenda.
(Budis)










