BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Gabungan serikat mitra driver yang mewadahi para pengemudi ojek online (ojol) dan taksi online (taksol) yakni Koalisi Ojol Nasional (KON), Forum Komunitas Driver Online Indonesia (FKDOI), dan Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) akan menggelar unjuk rasa guna memprotes layanan ‘Grab Hemat’ yang dituding merugikan pengemudi.
Ketua Presidium KON Andi Kristiyanto mengatakan ramainya aksi unjuk rasa menolak program Layanan Grab Hemat yang dilakukan para mitra ojol di berbagai daerah di Indonesia.
Protes mitra pengemudi Grab itu merupakan salah satu dari bentuk dari protes atas kebijakan yang dilakukan perusahaan aplikator tersebut.
“Itu (aksi demo) adalah hal yang manusiawi ketika usaha maksimal yang dilakukan mitra pengemudi tidak sepadan atau bahkan berbanding terbalik dengan hasil,” katanya dalam keterangan resminya, Senin (21/5/2025).
Sebab itu, KON berpandangan bahwa sebagai mitra, pengemudi ojol harus terus melakukan protes dengan cara menyerukan agar program layanan Grab Hemat ini dihapuskan.
Layanan Grab Hemat ini muncul dengan skema berbayar dengan nominal variatif antara lain yakni 1-2 trip dengan potongan Rp 3.000, lalu 3-4 trip potongan Rp 8.500, berikutnya 5-6 trip potongan Rp 13.600, lalu 7-9 trip potongan Rp 18.000 dan 10 trip ke atas potongan hingga mencapai Rp 20.000.
“Ini dibayarkan menurut akumulasi jumlah order yang didapat para driver per hari di luar potongan 15 persen plus 5 persen yang sudah ditetapkan Kemenhub dalam KP1001 tahun 2022 sebesar 15 persen untuk biaya tidak langsung berupa biaya sewa penggunaan aplikasi dan 5 persen sebagai biaya penunjang dukungan kesejahteraan bagi mitra driver,” ujarnya.
Sebelumnya, pihak Grab Indonesia menyatakan program akses hemat merupakan program tambahan baru yang bersifat opsional kepada mitra untuk mendapatkan akses layanan GrabBike Hemat.
Namun, Andi menegaskan implementasinya di lapangan memaksa secara halus setiap mitra untuk mengikuti program itu.
“Ini dapat dibuktikan dengan tingkat atau jumlah orderan yang didapat oleh mitra pengemudi jika tidak mengikuti program itu di setiap harinya. Logikanya mana ada perusahan yang tidak mau program yang sudah dibuat dan menghasilkan keuntungan besar tidak sukses berjalan,” kata Andi.
Selain sudah terjadwalkan agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP), KON masih melakukan upaya konsolidasi untuk menggelar aksi unjuk rasa yang akan dilakukan dalam waktu dekat di pekan terakhir April ini.
Forum Komunitas Driver Online Indonesia (FKDOI) juga menegaskan pihaknya sedang mempertimbangkan menggelar aksi unjuk rasa untuk memprotes layanan Grab Hemat.
“FKDOI saat ini sudah berkolaborasi dengan KON, yang sedang mengkaji kemungkinan apakah akan menggelar aksi serupa atau tidak,” ujar Rahman, Ketua FKDOI.
Selama ini, para mitra Grab cenderung diam dan menerima keputusan aplikator sehingga ketika terjadi rentetan aksi unjuk rasa di beberapa kota berarti layanan Grab Hemat memang dirasa sangat memberatkan oleh para driver.
Baca Juga:
“Berdasarkan informasi dari rekan-rekan mitra Grab, mereka merasa sangat dirugikan. Hal ini karena ada potongan tambahan setelah mereka menyelesaikan sejumlah order,” tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, gelombang demonstrasi para mitra pengemudi Grab terjadi di berbagai kota seperti Cirebon, Semarang, Kupang, dan Mataram..
Sebelumnya, Ketua SPA, Lily Pudjiati juga mendukung aksi unjuk rasa para mitra pengemudi Grab. Ia mengatakan bahwa layanan yang diskriminatif seperti Grab Hemat ini harus dihapuskan.
“Skema Hemat ini akan memotong pendapatan pengemudi ojol sebesar Rp 2.000 bila pengemudi menjalankan orderan antar penumpang sebanyak 2-5 orderan. Kemudian potongan akan naik menjadi Rp 3.000 bila menjalankan perintah dari platform sebanyak 6 orderan atau lebih. Potongan itu mulai berlaku saat diluncurkan di bulan Februari lalu,” kata Lily.
(Kaje)