Dinamika Lavender Marriage di Asia, Antara Konstruksi Sosial dan Realitas Identitas Diri

lavender marriage
Ilustrasi-lavender marriage (pexels)
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Isu tentang jati diri dan orientasi seksual makin terbuka dibicarakan. Namun, tidak semua orang memiliki ruang aman untuk menjadi diri sendiri. Salah satu fenomena yang muncul akibat tekanan sosial dan budaya adalah lavender marriage.

Istilah ini merujuk pada pernikahan antara pria dan wanita, di mana salah satu atau bahkan keduanya memiliki orientasi seksual yang berbeda dari heteroseksual, namun memilih menikah demi memenuhi ekspektasi masyarakat.

Sejarah Singkat Lavender Marriage

Lavender marriage bukanlah fenomena baru. Istilah ini mulai populer pada awal abad ke-20, khususnya di Hollywood.

Kala itu, banyak selebriti yang terpaksa menikah untuk menjaga citra publik karena masyarakat belum bisa menerima keberadaan komunitas LGBTQ+.

Mereka menyembunyikan orientasi seksualnya melalui pernikahan formal demi mempertahankan karier dan reputasi.

Kerusuhan Stonewall di tahun 1969 menjadi tonggak kebangkitan komunitas LGBTQ+ dalam memperjuangkan hak-hak mereka.

Namun sayangnya, hingga hari ini, lavender marriage masih terjadi terutama di negara-negara Asia, termasuk Indonesia dan India, di mana tekanan budaya dan keluarga begitu kuat.

BACA JUGA: 

Skandal Dokter Oky Pratama: Dugaan Pemerasan hingga Pernikahan Palsu?

Viral! Video Diduga dr Oky Pratama Bermesraan dengan Pria

Kenapa Lavender Marriage Terjadi?

Fenomena ini muncul bukan tanpa sebab. Di banyak komunitas konservatif, identitas LGBTQ+ masih dianggap tabu.

Banyak yang takut dikucilkan, kehilangan pekerjaan, atau mempermalukan keluarga jika mereka “keluar dari lemari”.

Maka dari itu, pernikahan dengan lawan jenis menjadi cara aman untuk bertahan hidup dalam sistem yang belum ramah.

Selain untuk menyembunyikan orientasi seksual, lavender marriage juga kerap dijadikan pelindung agar individu LGBTQ+ tidak menjadi korban diskriminasi. Sayangnya, konsekuensi psikologis dari “berpura-pura” ini bisa sangat besar.

Dampak Psikologis dan Sosial

Lavender marriage bisa jadi “penyelamat wajah” di depan publik, tapi di balik pintu rumah, sering kali justru menciptakan penderitaan.

Banyak pasangan yang merasa kesepian, mengalami tekanan emosional, bahkan depresi karena harus menahan identitas sejatinya.

Lebih parah lagi, jika pasangan lawan jenis tidak mengetahui kondisi sesungguhnya. Ini bisa berujung pada konflik rumah tangga, perceraian, atau bahkan trauma berkepanjangan. Dalam beberapa kasus, pasangan merasa tertipu dan kehilangan kepercayaan diri.

Selain itu, individu dalam lavender marriage juga bisa mengalami isolasi sosial. Mereka terjebak di antara dua dunia tidak diterima sepenuhnya di komunitas heteroseksual, tapi juga terputus dari komunitas LGBTQ+ karena ketidakterbukaan.

(Hafidah Rismayanti/Budis)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

2

Mursyid Asal Surabaya Dukung Gus Farkhan Evendi Jadi Utusan Presiden

3

6 Daftar Wisata, Dulu Favorit Sekarang Ditinggal Pengunjung

4

AC Milan Bawa Pulang Kemenangan Setelah Taklukan Como 2-1

5

Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City