BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Pagi di Desa Nglanggeran selalu datang dengan cara yang lembut. Kabut tipis perlahan turun dari lereng Gunung Api Purba, menyelimuti bebatuan raksasa yang berdiri sejak jutaan tahun lalu. Dari kejauhan, suara ayam berkokok bersahut-sahutan dengan langkah warga yang mulai beraktivitas. Udara terasa sejuk, bersih, dan tenang, seolah mengajak siapa pun yang datang untuk memperlambat langkah dan menikmati setiap detiknya.
Terletak di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Desa Nglanggeran berada sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Namun begitu memasuki wilayah desa ini, jarak terasa tak lagi relevan. Suasana pedesaan yang hangat, alam yang terjaga, dan keramahan warga membuat perjalanan terasa seperti pulang ke rumah lama yang lama dirindukan.
Desa yang Tumbuh Bersama Warganya
Nglanggeran bukan desa wisata yang lahir secara instan. Ia tumbuh perlahan, mengikuti irama warganya. Mayoritas penduduk adalah petani, pekebun, dan peternak yang hidup dengan nilai gotong royong yang masih kuat. Dari tangan merekalah wajah desa ini dibentuk, sederhana, jujur, dan penuh perhatian.
Konsep Community Based Tourism benar-benar hidup di sini. Wisata bukan milik segelintir orang, melainkan hasil kerja bersama. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat, tetapi juga merasakan kehidupan desa: menyapa warga di jalan setapak, menginap di homestay rumah penduduk, atau sekadar berbincang di teras sambil menikmati teh hangat.
Perjalanan panjang ini dimulai pada 1999, ketika sekelompok pemuda Karang Taruna resah melihat kawasan Gunung Api Purba yang gundul dan terabaikan. Mereka menanam pohon, membersihkan jalur, dan perlahan mengajak warga ikut menjaga alam. Dari gerakan kecil itulah, ekowisata Nglanggeran lahir dan berkembang hingga kini mengelola kawasan seluas 48 hektare.
Usaha kolektif itu membuahkan hasil. Penghargaan demi penghargaan datang, dari tingkat ASEAN hingga dunia. Pada 2021, Desa Nglanggeran dinobatkan sebagai Best Tourism Village oleh UNWTO, sebuah pengakuan global atas konsistensi desa kecil ini dalam menjaga keseimbangan antara wisata, alam, dan budaya.
Menyusuri Gunung Api Purba
Langkah wisatawan biasanya dimulai dari Gunung Api Purba Nglanggeran, ikon utama desa. Jalur pendakian membawa pengunjung melewati bebatuan raksasa yang menjadi saksi sejarah gunung api bawah laut yang terangkat jutaan tahun silam. Di sela-sela pendakian, angin berembus membawa aroma tanah dan dedaunan, sementara panorama hijau membentang sejauh mata memandang.
Saat mencapai puncak Gunung Gedhe, rasa lelah terbayar lunas. Siang hari menawarkan hamparan bukit dan lembah yang menenangkan, sementara malam hari menyuguhkan kerlap-kerlip lampu Kota Jogja dari kejauhan. Banyak wisatawan memilih berkemah, menunggu matahari terbit yang perlahan menyibak kabut pagi, momen sederhana yang sering berubah menjadi kenangan tak terlupakan.
Senja di Embung, Cerita di Kampung Pitu
Tak jauh dari gunung, Embung Nglanggeran menjadi tempat favorit menikmati senja. Air yang tenang memantulkan warna langit sore, sementara angin berembus pelan di antara kebun durian dan kelengkeng milik warga. Duduk di tepi embung, wisatawan sering kali terdiam, larut dalam keheningan yang jarang ditemukan di kota.
Lebih ke timur, Kampung Pitu menyimpan kisah yang berbeda. Perkampungan kecil dengan tujuh kepala keluarga ini dijaga oleh tradisi yang tak pernah berubah. Di sinilah cerita-cerita lama masih hidup, dari Telaga Guyangan yang dianggap sakral hingga kisah-kisah lisan yang diceritakan juru kunci dengan nada tenang. Dari puncaknya, Gunung Merapi dan Merbabu tampak gagah, seolah ikut menjaga desa dari kejauhan.
Alam, Sawah, dan Air Terjun Musiman
Di sisi selatan desa, Air Terjun Kedung Kandang mengalir mengikuti musim. Saat hujan tiba, air turun deras melewati undakan batuan vulkanik di tengah terasering sawah. Pemandangan ini kerap membuat wisatawan berhenti lama, menikmati kontras hijau sawah dan aliran air yang alami. Perjalanan menuju lokasi memang membutuhkan sedikit tenaga, namun suasana pedesaan sepanjang jalur trekking membuat langkah terasa ringan.
Pulang dengan Rasa Hangat
Menutup perjalanan di Desa Nglanggeran, yang tersisa bukan hanya foto-foto indah, tetapi rasa hangat yang sulit dijelaskan. Desa ini mengajarkan bahwa keindahan tidak harus dibangun dengan gemerlap. Ia cukup dirawat dengan kesabaran, kebersamaan, dan rasa hormat pada alam.
Di Nglanggeran, wisatawan bukan sekadar tamu. Mereka menjadi bagian dari cerita, berjalan di jalur yang sama dengan warga, menikmati alam yang dijaga bersama, dan pulang membawa pengalaman yang tak hanya indah di mata, tetapi juga menenangkan hati.











