JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Pengamat politik Rocky Gerung menganalisis pertemuan Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dengan mantan terpidana terorisme Abu Bakar Ba’asyir. Pertemuan itu, disebut agenda tersembunyi.
Menurut Rocky, langkah ini harus dibaca sebagai manuver Jokowi untuk mencari ‘payung kultural’ pada kekuatan politik Islam.
Mantan akademisi Universitas Indonesia itu menilai, pertemuan ini memiliki makna ‘kemenduaan’ interpretasi, antara percakapan demokratis atau sekadar pencitraan.
Rocky berpandangan, Jokowi lebih condong pada interpretasi kedua.
“Mungkin ada semacam, ya kita boleh duga, keinginan atau kepentingan Pak Jokowi untuk memperoleh semacam payung kultural, artinya payung kultural dari kekuatan politik muslim,” ujar Rocky di kanal YouTube Rocky Gerung Official, Kamis (02/10/2025).
Ia membedakan ‘payung politik’ dari partai Islam formal dengan ‘payung kultural’ yang diwakili oleh figur seperti Ba’asyir.
Menurutnya, Ba’asyir bukanlah seorang politisi, melainkan tokoh kultur politik Islam yang pengaruhnya masih signifikan.
“Abu Bakar Ba’asyir ada di situ sebagai tokoh Islam, tokoh kultur politik yang muslim, bukan politik muslim,” jelasnya.
BACA JUGA:
Seruan Dukungan pada Prabowo-Gibran, Disebut Keresahan Politik Jokowi
Jokowi ke Bali Cuap-cuap di Depan Kader PSI, Beri Arahan Khusus?
Langkah ini, disebutnya, sebagai simbol rekonsiliasi usai adanya ketegangan antara pemerintahan Jokowi dengan kelompok politik Islam di masa lalu, yang bahkan membuat Ba’asyir dipenjara.
Pertemuan itu dianggap sebagai sarana Jokowi menunjukkan hubungan baik dengan semua kalangan, termasuk yang pernah berseberangan.
(Saepul)