BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Agung Yansusan, menyoroti potensi besar produksi garam di wilayah pesisir Jawa Barat, khususnya di Cirebon. Hal itu disampaikan melalui unggahan reels di akun Instagram pribadinya, @agung.yansusan, saat meninjau langsung gudang penyimpanan garam di daerah tersebut.
Dalam video itu, Agung mengajak masyarakat untuk lebih mengenal asal-usul garam yang digunakan sehari-hari di rumah tangga.
“Kamu tahu nggak garam yang di rumah kamu itu asalnya dari mana, dari sini. Ini adalah gudang garam yang ada di Cirebon,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Jawa Barat memiliki kapasitas produksi garam yang cukup besar. Berdasarkan data yang ia sampaikan, pada tahun 2024 produksi garam di Jawa Barat mencapai 211.000 ton. Sementara kebutuhan garam untuk rumah tangga berada di kisaran 40.000 ton. Untuk tahun 2025, ditargetkan produksi meningkat hingga 220.000 ton.
Meski demikian, ia menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi para petani garam. Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan akses permodalan dari perbankan.
“Cuma yang jadi ironis sekarang ini petani-petani garam banyak yang mengalami kesulitan perbankan untuk permodalan, nah sehingga penjualannya itu memang tidak terlalu kompetitif dan signifikan harganya,” katanya.
Baca Juga:
Agung Yansusan Soroti Fenomena LGBT di Cirebon Lewat Unggahan Instagram
Viral Merokok Sambil Berkendara Ditegur Malah Ngeyel, Agung Yansusan Buka Suara
Agung juga menjelaskan faktor lain yang memengaruhi fluktuasi harga garam, yakni kondisi cuaca. Menurutnya, saat musim penghujan, produksi garam cenderung menurun sehingga harga di pasaran meningkat.
“Oleh karena itu apa yang menyebabkan harga garam bisa meningkat, biasanya dikarenakan musim penghujan, ketika musim hujan garam produksinya tidak terlalu tinggi sehingga harganya meningkat,” ucapnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ia menilai perlu adanya penerapan teknologi dalam proses produksi agar hasil panen lebih stabil dan mampu mencapai target yang telah ditetapkan.
“Jadi kedepannya memang diperlukan solusi berupa penerapan teknologi agar produksi garam bisa stabil sehingga mencapai target,” ujarnya.
Lebih jauh, Agung berharap Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor garam dengan memaksimalkan potensi produksi lokal, termasuk dari Jawa Barat.
“Dan mudah-mudahan kedepannya Indonesia tidak harus impor lagi garam dan cukup menggunakan produksi lokal yang di Jawa Barat ini,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya perlindungan bagi para petani garam melalui dukungan pemerintah, baik dalam bentuk bantuan modal maupun penyediaan alat dan teknologi yang memadai.
“Mudah-mudahan petani garam bisa terlindungi dengan perlindungan dari pemerintah melalui bantuan-bantuan modal dan juga alat-alat teknologi lainnya sehingga petani garam di Cirebon Indramayu dan sekitarnya bisa lebih maju,” tuturnya.
Di akhir video, ia mengajak masyarakat untuk turut memberikan pandangan mengenai masa depan industri pergaraman di daerah.
“Apa harapan kamu tentang dunia pergaraman di Jawa Barat dan Indonesia?” tanyanya.
Dalam caption unggahannya, Agung menuliskan apresiasi terhadap para petani dan pengelola gudang garam.
“Memastikan rantai pasok garam tetap aman dan berkualitas langsung dari gudang penyimpanan.
Apresiasi tinggi bagi para petani garam dan pengelola gudang yang terus bertransformasi menjaga kualitas produksi di tengah tantangan cuaca.”
Unggahan tersebut menyoroti pentingnya keberlanjutan industri garam lokal sebagai bagian dari ketahanan pangan dan industri nasional. Potensi besar yang dimiliki Jawa Barat, khususnya wilayah Cirebon dan Indramayu, dinilai perlu didukung kebijakan yang berpihak pada petani agar produksi semakin stabil dan kompetitif di pasar nasional.
(Magang UIN Sunan Gunung Djati/Anggia Ananda Safitri)











