SUBANG, TEROPONGMEDIA.ID — Tim gabungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Jawa Barat bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang, melakukan survei terhadap benda-benda purbakala yang diduga sebagai Batu Tulis dan Batu Lingga di Kawasan Hutan Gunung Kujang, Subang,belum lama ini.
Batu Lingga yang ditemukan di lokasi tersebut diduga kuat merupakan bagian dari situs megalitik. Berdasarkan penelitian awal, benda purbakala ini diperkirakan memiliki kaitan dengan tradisi megalitik masa lalu, kemungkinan berfungsi sebagai tempat pemujaan atau penguburan.
“Tim Survey dari Balai Pelestari Kebudayaan Provinsi Jawa Barat didampingi Tim Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Museum Subang memeriksa obyek benda purbakala diduga Batu Tulis dan Batu Lingga di Kawasan Hutan Gunung Kujang Subang,” demikian keterangan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang melalui akun resmi Instagramnya, dikutip Selasa (12/8/2025).
Tim peneliti melakukan pemeriksaan mendalam untuk memastikan asal-usul dan fungsi sebenarnya dari temuan ini.
BACA JUGA
Diduga Prasasti Kuno, Batu Bertulis di Cimaung Diteliti Disbudpar Kota Bandung
Sebelumnya, beberapa penelitian serupa telah dilakukan di lokasi untuk mengungkap nilai sejarah dan budaya yang tersimpan pada benda-benda purbakala tersebut.
Keberadaan Batu Lingga di Gunung Kujang Subang semakin memperkaya catatan arkeologi Jawa Barat. Temuan ini diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang peradaban dan kepercayaan masyarakat di wilayah tersebut pada masa lampau.
Apa itu Batu Tulis?
Batu tulis merupakan jenis batuan metamorf homogen berbutir halus yang terbentuk dari proses metamorfosis tingkat rendah terhadap batuan sedimen asal seperti serpih lempung atau abu vulkanik.
Sebagai batuan metamorf berfoliasi dengan tekstur paling halus, bidang foliasinya tidak selalu sejajar dengan lapisan sedimen awal, melainkan terbentuk tegak lurus terhadap arah tekanan selama proses metamorfisme.
Struktur khas batu tulis yang disebut “slaty cleavage” terbentuk akibat tekanan kuat yang menyebabkan mineral lempung halus tersusun dalam bidang sejajar.
Ketika dipotong secara profesional searah foliasi menggunakan alat khusus di tambang, batu tulis menunjukkan sifat fisilitas yang memungkinkannya terbelah menjadi lembaran tipis dan rata.
Sifat inilah yang membuatnya sejak lama dimanfaatkan sebagai bahan atap, pelapis lantai, dan berbagai keperluan konstruksi lainnya.
Secara visual, batu tulis umumnya berwarna abu-abu saat digunakan dalam jumlah besar seperti pada atap bangunan.
Namun sebenarnya batuan ini memiliki variasi warna yang luas, bahkan dalam satu lokasi penambangan. Contohnya batu tulis dari Wales Utara dikenal memiliki spektrum warna abu-abu dari terang hingga gelap, serta bisa berwarna ungu, hijau, atau kebiruan.
Perlu dibedakan antara batu tulis dengan batuan serpih (sebagai bahan pembentuknya) maupun sekis yang memiliki karakter berbeda.
Istilah “slate” dalam penggunaan sehari-hari tidak hanya merujuk pada material batuan, tetapi juga produk yang dibuat darinya.
Ini mencakup genteng batu tulis maupun papan tulis tradisional yang terdiri dari lembaran batu halus biasanya dalam bingkai kayu, yang dulunya digunakan dengan kapur sebagai media tulis di sekolah atau papan pengumuman di kedai minuman.
Frasa bahasa Inggris seperti “clean slate” dan “blank slate” yang bermakna permulaan baru, berasal dari praktik menghapus tulisan di papan batu tulis ini.
(Aak)





