Penjelasan Soal Pengalihan Penerima Bansos Produktif ke Pemberdayaan Ekonomi

Bansos cirebon
Ilustrasi Bansos. (pexels)
-

Tidak ada video disisipkan.

CIREBON, TEROPONGMEDIA.ID — Kementerian Sosial (Kemensos) mengubah pendekatan penanganan kemiskinan melalui pengalihan penerima bantuan sosial (bansos) usia produktif ke program pemberdayaan ekonomi.

Kebijakan ini bertujuan menciptakan kemandirian masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan pada bantuan pemerintah.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan langkah ini sebagai transformasi dari bantuan konsumtif menuju pendekatan produktif.

“Untuk lansia dan disabilitas akan terus kita bantu, tapi penerima usia produktif kita dorong masuk program pemberdayaan melalui pelatihan keterampilan atau bantuan modal,” jelas Gus Ipul, panggilan akrab Saifullah Yusuf, di Pendopo Bupati Cirebon, Jawa Barat, mengutip Antara, Rabu (13/8/2025).

Proses evaluasi penerima bansos dilakukan rutin setiap lima tahun. Penerima yang dinilai sudah mampu secara ekonomi akan dialihkan ke program pemberdayaan dengan pendampingan intensif dari tenaga pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).

“Penghentian bansos bukan berarti pemerintah lepas tangan, tapi kita ubah bentuk bantuannya menjadi lebih produktif,” tegas mantan Wakil Gubernur Jawa Timur ini.

Ia mencontohkan banyak penerima bansos yang sukses menjadi pengusaha mikro setelah mendapat pembinaan dan modal dari Kemensos.

Kebijakan ini menargetkan lebih dari 300.000 penerima manfaat setiap tahun di seluruh Indonesia. Kemensos menggandeng pemerintah daerah untuk menyediakan pelatihan keterampilan, fasilitasi usaha, hingga akses pasar bagi mantan penerima bansos.

BACA JUGA

Kemensos Hentikan 55 Ribu Bansos Tidak Tepat Sasaran

PPATK Temukan Ribuan Penerima Bansos Tidak Tepat Sasaran

Gus Ipul optimis pendekatan terpadu antara pusat dan daerah ini akan mempercepat penurunan angka kemiskinan.

“Kita targetkan tahun 2026 kemiskinan ekstrem bisa nol persen, termasuk di Kabupaten Cirebon,” pungkasnya.

Program pengalihan penerima bansos ini merupakan bagian dari strategi pemerintah mencapai target penurunan kemiskinan ekstrem menjadi 0% pada 2026.

Data terakhir menunjukkan sekitar 4,5 juta penduduk masih berada di bawah garis kemiskinan ekstrem per Maret 2023.

(Aak)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

2

6 Daftar Wisata, Dulu Favorit Sekarang Ditinggal Pengunjung

3

Studio Alam Gamplong, Destinasi Perfilman Favorit di Sleman

4

Mursyid Asal Surabaya Dukung Gus Farkhan Evendi Jadi Utusan Presiden

5

AC Milan Bawa Pulang Kemenangan Setelah Taklukan Como 2-1
Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City