JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Kalau bicara soal perang terbesar di Nusantara pada abad ke-19, Perang Jawa jelas nggak bisa dilewatkan. Namun jangan salah, konflik yang berlangsung dari tahun 1825 sampai 1830 ini bukan cuma soal perlawanan terhadap Belanda.
Di baliknya ada campuran rumit antara konflik politik, mistik, ekonomi, sampai harapan akan datangnya sosok Ratu Adil. Tokoh utamanya tentu saja Pangeran Diponegoro, tetapi jalan cerita Perang Jawa jauh lebih kompleks dari sekadar satu nama.
Perang ini dipicu oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah ketidakpuasan Diponegoro terhadap pemerintah kolonial Belanda yang mulai mencampuri urusan dalam keraton, terutama menyangkut pengangkatan raja dan kebijakan-kebijakan yang dianggap mengabaikan norma dan adat lokal. Belum lagi soal pajak dan hak atas tanah yang makin menyengsarakan rakyat.
Menurut Carey (2004), salah satu pemicu yang menyulut kemarahan Diponegoro adalah ketika sebuah tiang jalan akan dibangun melintasi makam leluhurnya di Tegalrejo. Peristiwa ini menjadi simbol betapa jauhnya kekuasaan kolonial menjangkau urusan pribadi dan spiritual masyarakat Jawa. Dalam waktu singkat, kemarahan itu meluas dan menjelma menjadi perang besar.
Hal yang membuat Perang Jawa makin menarik adalah kuatnya unsur spiritual yang melingkupinya. Agustin (2009) menjelaskan bahwa banyak masyarakat saat itu percaya akan datangnya Ratu Adil—sosok penyelamat yang akan membebaskan rakyat dari penindasan. Diponegoro dianggap memenuhi nubuat itu, menjadikannya bukan sekadar pemimpin militer, tapi juga figur mesianistik.
Selama lima tahun, Perang Jawa menguras sumber daya kedua belah pihak. Rakyat biasa, santri, hingga bangsawan turut terlibat dalam perlawanan. Di sisi lain, Belanda harus mendatangkan ribuan pasukan tambahan dari luar negeri. Menurut Vira Maulisa Dewi (2020), korban jiwa dari pihak pribumi mencapai lebih dari 200 ribu orang, angka yang menunjukkan betapa brutal dan masifnya konflik ini.
Namun, berakhirnya perang ini juga menyisakan ironi. Diponegoro ditangkap bukan di medan tempur, melainkan saat melakukan negosiasi damai di Magelang pada 1830. Ia kemudian diasingkan ke Makassar hingga wafat di sana. Penangkapan itu menyisakan luka dan rasa pengkhianatan yang dikenang hingga kini.
Kini, dua abad setelah perang itu meletus, bangsa Indonesia kembali menoleh ke masa lalu. 21 Juli 2025 lalu, pemerintah melalui Kementerian kebudayaan (Kemenbud) secara resmi membuka Pameran 200 Tahun Perang Jawa di Perpustakaan Nasional, Jakarta.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon membuka pameran sekaligus menyampaikan Pidato Kebudayaan berjudul “Menemukan Jati Diri Bangsa Melalui Refleksi Kejuangan Pangeran Diponegoro.” Menbud menekankan pentingnya momen ini sebagai refleksi terhadap perjuangan mempertahankan jati diri bangsa di tengah kolonialisme.
BACA JUGA
AS Kembalikan 6 Artefak Cagar Budaya ke Indonesia
Misteri Prasasti Cikapundung: Jejak Sejarah Sunda Kini Dibongkar
Ia berharap, peringatan tersebut tidak hanya sekedar upaya mengenang sejarah, tetapi juga sarana untuk menanamkan kembali nilai-nilai kebangsaan, keberanian, dan keteladanan kepada generasi muda. Dua abad berlalu, tetapi semangat perlawanan dan harga diri yang ditunjukkan dalam Perang Jawa tetap relevan untuk dibicarakan, sebagai cermin tentang siapa kita sebagai bangsa.
Sumber: Kementerian Kebudayaan, Academia Edu, Jurnal UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
(Daniel Oktorio Saragih/Magang/Aak)


