BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Euforia festival musik Coachella tak pernah gagal mencuri perhatian publik, termasuk dari kalangan selebriti Tanah Air. Salah satunya adalah Reza Oktavian atau yang lebih dikenal dengan Reza Arap terlihat terbang ke Amerika Serikat untuk menghadiri festival bergengsi tersebut.
Namun kepergiannya kali ini ke Coachella bukan hanya soal untuk menikmati musik atau menyaksikan penampilan musisi dunia seperti Justin Bieber. Melainkan ada cerita emosional yang ikut menyertai perjalananya, sebuah rencana yang dulu ingin di wujudkan bersama sang kekasih, namun kini harus ia jalani seorang diri.
Melalui siaran langsung kanal YouTube miliknya, ia mengungkapkan bahwa dirinya sudah berada di Coachella. Ia datang lebih awal untuk mempersiapkan diri menikamti salah satu momen yang telah lama ia nantikan.
Namun suasanya berbeda ssat ini karena tidak sesuai dengan bayangannya.
Ia menyadari bahwa pengalaman ini seharusnya ia jalani bersama Lula Lahfah, sosok yang pernah begitu berarti dalam hidupnya.
Ungkapan tersebut langsung menyentuh banyak orang. Di kolom komentar Tiktok @Fharrr, netizen ramai memberikan dukungan dan doa untuk Reza Arap.
Baca Juga:
Teaser Film Harusnya Horor Dihujat Netizen, Nama Reza Arap Terseret
Reza Arap vs Gerald Liu! Saling Klaim Soundtrack Asian Games: Itu Karya Gua
“mass yeb kuat ya orang baik….sedih nya smpe sni bang..gue gk kenl lu sm almarhum tp ngerasain sakit ny lu bang yb,” tulis@t****a pada Jumat (17/4/2026).
“pelan pelan mas…pasti bisa walaupun butuh waktu yg lama.. semoga mas arap mendapatkan jodoh yg tulus seperti almarhum aamiin..mas berhak bahagia mas.. semangat dan sehat terus ya mas,” tulis @ma** ***.
“Smngtt massss loee hruss happy yaaaa,” tulis @s***.
Meski tanpa kehadiran Lula, banyak yang berharap bahwa ia tetap dapat menikmati festival musik tersebut. Sebagian netizen juga menilai bahwa perasaan yang ia alami adalah hal manusiawi, ketika tempat dan momen yang dapat membangkitkan kenangan akan sesorang yang pernah begitu berarti dalam hidupnya.
Meski begitu, perjalanan ini diyakini tetap memiliki makna tersendiri. Mungkin bukan tentang siapa yang menemani tetapi tentang bagaimana ia perlahan belajar menerima dan berdamai dengan kenangan yang ada.
(Magang Unpas/T.Naila Ananda)











