JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat, adanya lonjakan kasus bunuh diri sepanjang tahun 2024.
Berdasarkan data resmi, tercatat 84 kasus bunuh diri terjadi pada tahun lalu, meningkat 20 persen dibanding tahun 2023 yang berjumlah 70 kasus.
Dalam kurun empat tahun terakhir, kasus terbanyak masih didominasi oleh wilayah Gunung Kidul. Pada 2021 tercatat 37 kasus, 2022 sebanyak 30 kasus, 2023 menjadi 29 kasus, dan pada 2024 tercatat 26 kasus.
Meski mengalami penurunan, angka bunuh diri di Gunung Kidul tetap menjadi yang tertinggi di DIY.
Minim Ruang Diskusi Picu Lonjakan Kasus Bunuh Diri
Muhammad Rafliansyah S. dari Pusat Rehabilitasi YAKKUM menilai, lonjakan kasus bunuh diri tak lepas dari masih lemahnya perhatian terhadap kesehatan mental.
YAKKUM pun menyoroti kasus tragis bunuh diri seorang remaja berusia 15 tahun di Imogiri, Bantul.
Menurutnya, kurangnya ruang diskusi atau wadah untuk saling mendengarkan membuat banyak remaja terjebak dalam kesepian hingga mengambil langkah ekstrem.
“Sebenarnya teman-teman itu cuma butuh untuk disampaikan, diedukasi, dan didekati. Poinnya di situ,” ujar Rafliansyah di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Kamis (9/10/2025).
Ia menambahkan, bunuh diri sebenarnya bisa dicegah jika lingkungan sekitar mampu menghadirkan rasa aman dan nyaman. Namun di kalangan anak muda, kebanyakan baru mau bercerita ketika ada yang lebih dulu menanyakan kabar mereka.
Baca Juga:
Belasan Anak Diduga Jadi Korban Salah Tangkap dan Kekerasan Polisi di Polres Magelang Kota
Tragedi Miras Oplosan di Magelang: 7 Orang Meninggal, 1 Alami Kebutaan
Program ASIK untuk Remaja
Sebagai bentuk pencegahan, YAKKUM meluncurkan Program ASIK (Aksi Sehat Jiwa, Inisiatif, dan Kontribusi Anak Muda). Program ini berfokus pada edukasi dan pelatihan yang menekankan pentingnya self-value serta penerimaan diri.
“Pelatihan itu menekankan bahwa setiap orang punya value masing-masing. Merasa tidak baik-baik saja itu ya it’s okay,” jelas Rafliansyah.
Program tersebut juga membentuk peer support atau dukungan sebaya di sekolah, karang taruna, hingga komunitas lokal. Dengan ekosistem ini, diharapkan anak muda memiliki ruang aman untuk berbagi cerita.
“Harapannya dengan peer support, teman-teman bisa lebih nyaman untuk cerita dan tidak bingung harus lari ke mana,” tambahnya.
Peran Pemerintah Daerah
Di sisi lain, Pemprov DIY melalui Staf Ahli Gubernur Bidang Hukum, Pemerintahan, dan Politik, Sukamto, menegaskan pemerintah sudah melakukan langkah preventif hingga kuratif.
Ia mengatakan, pencegahan dilakukan lewat sosialisasi, sementara penanganan kuratif dijalankan melalui layanan di RS Grhasia dan fasilitas rehabilitasi Dinas Sosial DIY.
“Di masyarakat juga sudah dibentuk pendamping. Jadi ada yang penanganannya melalui pemerintah, ada juga yang secara mandiri oleh masyarakat,” ujar Sukamto.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, lembaga swasta, dan komunitas masyarakat untuk menekan angka bunuh diri.
(Dist)











