BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Di tengah meningkatnya risiko bencana alam, kearifan lokal masyarakat Sunda dan Banten kembali relevan. Tradisi menjaga hutan, mata air, hingga memori kolektif tentang bencana yang tersimpan rapi dalam ritual dan manuskrip kuno terbukti sejalan dengan prinsip sains modern dalam pengurangan risiko bencana alam.
Dalam tradisi Sunda, hutan tidak dipandang sekadar ruang hijau, melainkan bagian dari tata kehidupan. Masyarakat adat membagi fungsi hutan secara tegas untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan tata air wilayah sekitarnya.
kawasan paling sakral dikenal sebagai leuweung titipan atau hutan larangan, yang tidak boleh disentuh manusia dalam bentuk apa pun. Di sekelilingnya terdapat leuweung tutupan, hutan lindung yang berfungsi sebagai daerah resapan air dan penyangga kawasan inti.
Pemanfaatannya sangat terbatas, hanya pada hasil hutan non-kayu seperti madu atau tanaman obat. Sementara itu, leuweung baladahan menjadi ruang garapan masyarakat untuk bertani dengan aturan adat dan sistem rotasi.
Secara ilmiah, pembagian ini terbukti berperan penting dalam menahan longsor, menyerap air hujan, mengendalikan erosi, serta menjaga stabilitas tanah. Hutan larangan dan hutan lindung juga berfungsi sebagai penyangga alami yang dapat mengurangi risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan kekeringan.
Perlindungan alam juga tercermin dalam cara masyarakat Sunda menjaga sumber air. Konsep ‘cinyusu rumateun’, atau mata air yang wajib dirawat, menjadi aturan adat yang memastikan aliran air tetap terjaga sepanjang tahun. Praktik ini berkontribusi langsung pada pencegahan kekeringan dan banjir di wilayah hilir.
Dalam bidang pertanian, sistem tatanén Sunda dirancang agar selaras dengan kondisi lereng. Pola tanam seperti tumpangsari dan penanaman berlapis membantu mengikat tanah, mengurangi potensi longsor, sekaligus meningkatkan kesuburan lahan tanpa merusak struktur alam.
Prinsip hidup selaras dengan alam juga dijumpai di Banten, terutama pada masyarakat Baduy. Mereka menolak penebangan liar dan penggunaan bahan logam. Rumah-rumah dibangun dari kayu dan bambu, diikat menggunakan rotan, ijuk, dan pasak bambu tanpa paku. Konstruksi ini membuat bangunan lebih lentur dan mampu meredam guncangan gempa.
Baca Juga:
Penyebutan Kuasa Imajiner dalam Jangjawokan Budaya Sunda
Selain melalui praktik sehari-hari, masyarakat Banten merawat memori kolektif tentang bencana lewat ritual dan manuskrip. Ingatan tentang letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883, misalnya, tidak hanya hidup dalam cerita lisan, tetapi juga diperingati melalui tradisi seperti Haul Kalembak.
Pengetahuan kebencanaan juga terekam dalam naskah-naskah seperti parimbon, catatan letusan Krakatau, kekedutan, hingga jangjawokan atau gunung sari.
Periset Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Asep Suryadi, menilai kearifan lokal ini menunjukkan bahwa budaya dan sains tidak berjalan terpisah.
“Kearifan lokal Sunda membuktikan bahwa budaya dan sains dapat berjalan beriringan. BRIN terus mengkaji dan memperkuat nilai-nilai lokal seperti ini sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana nasional,” ujarnya dikutip dari laman resmi BRIN, Rabu (28/1/2026)
(Magang UIN Sunan Gunung Djati/Robby Nuzula Ramadhan).











