Ini 3 Desa yang Jadi Bukti Nyata Toleransi

Desa
Desa (pinterest)
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Indonesia, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, telah lama mengukuhkan keragaman sebagai fondasi bangsanya. Keberagaman suku, agama, dan budaya adalah anugerah yang seharusnya menjadi perekat antar warga desa.

Permasalahan seringkali berakar dari hal sepele, seperti prasangka negatif tanpa klarifikasi. Kasus viral di TikTok tentang keluhan seorang warga perumahan terhadap suara pengajian tetangga menjadi cerminan bahwa inti masalahnya bukanlah perbedaan latar belakang agama, melainkan sikap tidak saling menghormati, menghargai, dan memahami. Ini menunjukkan bahwa keberagaman memang menguji keharmonisan dalam komunitas.

Baca Juga:

Diduga Korupsi Dana Desa, Sekdes Cipaku Resmi Ditahan

Kemendes Dorong Desa Bangun Kemitraan dan Kelola Sampah untuk Tingkatkan Ekonomi

Kisah Inspiratif dari Tiga Desa

Di tengah tantangan tersebut, beberapa desa di Nusantara justru menonjol sebagai model nyata kebhinekaan yang harmonis. Desa-desa ini tidak hanya membuktikan bahwa pluralitas bukanlah penghalang kerukunan, melainkan justru menjadi daya tarik yang unik.

Desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, adalah salah satu contohnya. Desa ini dihuni oleh masyarakat dengan beragam keyakinan, meliputi Islam, Katolik, Agama Djawa Sunda (ADS), Hindu, dan Protestan.

Kuncinya adalah saling menghargai dan mentolerir norma yang dijunjung dalam keyakinan masing-masing. Saat perayaan Seren Taun umat Sunda Wiwitan/ADS, kerabat Muslim menghormati perayaan tersebut tanpa harus mengikuti ritualnya, dan umat Sunda Wiwitan pun memahami sikap tersebut.

Lebih dari itu, mereka menjadikan budaya sebagai pemersatu, bahkan dalam satu keluarga bisa terdapat kepercayaan yang berbeda. Tokoh ikonik Kyai Madrais mengajarkan pentingnya solidaritas sebagai dasar toleransi, menjadikan budaya sebagai jembatan persatuan.

Tak jauh berbeda, Desa Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah, juga menunjukkan keragaman yang harmonis. Perbedaan ritual keagamaan tidak menyurutkan mereka untuk saling mengasihi. Misalnya, saat hari raya Idul Fitri bertepatan dengan hari Minggu, umat Kristen rela mengundurkan perayaan misa mereka ke siang hari.

Mereka bahkan tak sungkan menjadi juru parkir bagi jemaah salat Id. Etika bertoleransi ini melahirkan solidaritas kemanusiaan tanpa memandang asal-usul kepercayaan.

Tradisi desa

Tradisi mengangkat anak asuh (putra angon) yang dibesarkan sesuai agama orang tua kandungnya, meskipun berbeda agama dengan orang tua angkat, adalah bukti nyata. Filosofi Jawa “rukun agawe sentosa, crah agawe bubrah” (kerukunan membawa kesejahteraan, perselisihan membuat hancur) menjadi pedoman hidup mereka.

Desa Balun, Lamongan, Jawa Timur, melengkapi potret harmoni ini. Masyarakat pengrajin di sini tidak terhasut konflik dalam keberagaman mereka. Faktor kekeluargaan menjadi perekat utama.

Ajaran Mbah Alun, tokoh pendiri desa, yaitu “saling nrimo, saling ngajeni” (saling menerima, saling menghormati), menjadi parameter persahabatan mereka.

Krisis kemanusiaan yang timbul akibat egoisme dan klaim kebenaran sepihak adalah realita miris yang terjadi di banyak belahan dunia, termasuk Indonesia. Padahal, perbedaan agama, etnik, dan budaya sejatinya harus menjadi alat pemersatu yang perlu terus dipelihara. Desa Cigugur, Ngargoyoso, dan Balun adalah contoh nyata bahwa keragaman dapat menciptakan suasana kerukunan yang kuat dan menginspirasi.

(Hafidah Rismayanti/Budis)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

2

Mursyid Asal Surabaya Dukung Gus Farkhan Evendi Jadi Utusan Presiden

3

AC Milan Bawa Pulang Kemenangan Setelah Taklukan Como 2-1

4

Studio Alam Gamplong, Destinasi Perfilman Favorit di Sleman

5

6 Daftar Wisata, Dulu Favorit Sekarang Ditinggal Pengunjung
Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City