BANJARNEGARA, TEROPONGMEDIA.ID – Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, memaksa ratusan warga mengungsi akibat tanah longsor dan banjir pada Rabu (14/1) malam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara menyatakan kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Sebanyak 48 kepala keluarga dengan total 165 jiwa di Dusun Melikan, Desa Giritirta, Kecamatan Pejawaran, terpaksa meninggalkan rumah mereka menyusul longsornya talut jalan yang menimpa permukiman warga. Longsor terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama berjam-jam sejak sore hari.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banjarnegara Raib Syekhudin mengatakan, langkah pengungsian dilakukan untuk menghindari risiko longsor susulan, mengingat kondisi tanah yang masih labil akibat tingginya curah hujan.
“Keselamatan warga menjadi prioritas. Kami masih melakukan kajian lapangan untuk memastikan apakah lokasi sudah aman untuk dihuni kembali,” ujar Raib, dikutip dari Antara, Kamis (15/1/2026).
BPBD mencatat tiga rumah warga mengalami kerusakan berat, sementara dua rumah lainnya rusak ringan akibat tertimpa material longsor. Selain itu, satu sepeda motor tertimbun dan akses jalan usaha tani rusak. Seorang anak berusia 10 tahun dilaporkan mengalami luka ringan dan trauma, namun telah mendapat penanganan medis.
Baca Juga:
Imbas Banjir Sumatera, Purbaya Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Melambat
Tak hanya longsor, hujan deras juga memicu luapan Sungai Sak-Sak di Desa Wanayasa, Kecamatan Wanayasa. Banjir dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 100 sentimeter merendam sembilan rumah warga. Sejumlah warga memilih mengungsi, sementara lainnya bertahan di lantai dua rumah masing-masing.
BPBD memastikan banjir berangsur surut pada Kamis dini hari dan warga terdampak telah kembali ke rumah mereka. Meski demikian, aparat desa dan petugas kebencanaan tetap disiagakan untuk mengantisipasi potensi bencana susulan.
BPBD Banjarnegara mengimbau masyarakat di wilayah rawan longsor dan banjir untuk meningkatkan kewaspadaan serta segera melapor apabila menemukan tanda-tanda pergerakan tanah, retakan, atau kenaikan debit air sungai secara cepat.
“Partisipasi warga sangat penting agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan risiko dapat diminimalkan,” kata Raib.











