BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Freeport-McMoRan (FCX.N) mengumumkan force majeure atau keadaan kahar di tambang Grasberg, Papua Tengah, Indonesia pada Rabu (24/9/2025) waktu setempat.
Mengutip dari Reuters, pengumuman force majeure ini berdampak pada anjloknya saham Freeport-McMoRan (FCX.N) sebesar 10,4%. Freeport juga memperkirakan, penjualan konsolidasi tembaga dan emas pada kuartal III akan lebih rendah.
Sebelumnya, Freeport telah menghentikan sementara penambangan di tambang Grasberg sejak terjadinya insden longsor yang menimpa tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada 8 September 2025.
Longsor aliran material basah yang besar menutup akses ke beberapa bagian tambang bawah tanah dan menyebabkan sebanyak tujuh pekerja terjebak.Freeport punmemutuskan untuk menghentikan sementara operasinya dan mengerahkan semua sumber daya untuk upaya evakuasi.
Pada Sabtu (20/09/2025) lalu, Freeport telah berhasil menemukan dua pekerja yang sebelumnya hilang dalam kondisi meninggal akibat insiden tersebut. Sementara lima korban lainnya masih dalam proses pencarian.
Baca Juga:
2 Pekerja Freeport yang Terjebak Longsor Tambang Ditemukan Tewas
Tim Masih Upayakan Buka Akses, Ini Lokasi Terakhir Pekerja Freeport Sebelum Hilang Kontak
Usai insiden longsor ini, Freeport memperkirakan operasi di tambang Grasberg yang merupakan salah satu tambang emas dan tembaga terbesar di dunia, kemungkinan akan dimulai kembali secara bertahap pada paruh pertama 2026. Freeport mengindikasikan produksi tahun 2026 berpotensi turun sekitar 35% dari perkiraan sebelumnya.
Menyusul pengumuman force majeure Freeport, Harga tembaga di London Metal Exchange melonjak lebih dari 3% ke level tertinggi dalam 15 bulan pada Rabu. Para analis menilai gangguan ini akan menyebabkan pasar tembaga lebih ketat, yang berpotensi berdampak positif bagi operasi Freeport di Amerika Serikat.
Freeport kini memperkirakan penjualan konsolidasi tembaga dan emas pada kuartal ketiga akan lebih rendah masing-masing sekitar 4% dan 6%, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 1 miliar pon tembaga dan 350.000 ons emas.
Sementara itu, Goldman Sachs melporkan menurunkan proyeksi pasokan tambang tembaga global untuk 2025 dan 2026 pada Kamis (25/9/2025), imbas adanya gangguan di tambang Grasberg Indonesia. Pasalnya, Grasberg merupakan tambang tembaga terbesar kedua di dunia.
Goldman Sachs memperkirakan total kehilangan pasokan tembaga mencapai 525.000 ton imbas dari gangguan tersebut. Proyeksi pasokan tambang global pun dipangkas sebesar 160.000 ton pada paruh kedua 2025 dan 200.000 ton pada 2026.
Produksi Grasberg kini diperkirakan turun 250.000 hingga 260.000 ton pada 2025 dan berkurang 270.000 ton pada 2026.
Freeport menilai produksi kuartal IV 2025 akan sangat rendah, lantaran area tambang yang tidak terdampak baru bisa kembali beroperasi pertengahan kuartal, dengan porsi sekitar 30%-40% dari kapasitas tahunan.
Goldman Sachs menegaskan, kehilangan produksi ini melampaui perkiraan normal gangguan pasokan global. Akibatnya, proyeksi pertumbuhan produksi tambang global 2025 dipangkas menjadi hanya naik 0,2% dibanding tahun sebelumnya, dari sebelumnya 0,8%. Sedangkan untuk 2026, proyeksi pertumbuhan diturunkan menjadi 1,9% dari semula 2,2%.
Gangguan di Grasberg juga mengubah proyeksi neraca tembaga global Goldman Sachs untuk 2025 dari surplus 105.000 ton menjadi defisit 55.500 ton. Sementara pada 2026, neraca pasokan tembaga diperkirakan masih mencatat surplus tipis.
(Raidi/Aak)











