JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – Mantan Mendikbudristek, Nadiem Makarim mengaku dirinya tidak diperbolehkan berbicara ke media, sehingga dirinya terpaksa menulis surat untuk dibacakan pengacaranya.
Surat tersebut berisi beberapa pernyataan tentang kasus yang menjeratnya. Hal ini diunggah dalam akun @nadiemmakarim, Kamis (9/1/2026). Berikut ini adalah isinya.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Karena saya tidak diperbolehkan berbicara kepada media, saya terpaksa menulis surat ini untuk dibacakan pengacara saya,” tulisnya.
“Ijinkan saya melontarkan beberapa pertanyaan kepada publik agar mereka juga bisa menilai kejanggalan dalam kasus saya:,” tulisnya.
“Apakah masuk akal keuntungan yang saya dapatkan Rp 809M kalau total omset Google dari pengadaan Chromebook hanya sekitar Rp 621M? Apakah ada kejahatan yang membayar lebih dari keuntungan?,” tulis Nadiem.
“Apakah masuk akal memilih Operating System yang lisensinya Gratis yaitu Chrome OS yang menghemat negara Rp 1.2T dibandingkan dengan Windows yang berbayar dibilang merugikan negara? Apakah masuk akal bahwa kebijakan yang memilih Operating System gratis menyebabkan harga laptop kemahalan?,” tulisnya.
Baca Juga:
Korupsi Chromebook, Nadiem Makarim Didakwa Rugikan Negara Rp2,18 Triliun
Usai 10 Jam Pemeriksaan, Nadiem Makarim Percaya Kebenaran Pasti Muncul
“Apakah masuk akal Rp 621M biaya lisensi Chrome Device Management, yaitu fitur aplikasi yang bisa mengontrol dan memonitor setiap laptop di setiap sekolah dituduh “tidak berguna” dan menjadi kerugian negara? Apakah kita menginginkan anak anak dan guru kita menonton pornografi, ketagihan gaming, atau bermain judi online? Apakah kita tidak menginginkan data penggunaan laptop per sekolah sehingga ada akuntabilitas dan transparansi dalam pengadaan?,” tulis Nadiem.
“Apakah masuk akal pengadaan laptop yang didampingi Kejaksaan, diaudit oleh BPK, dan diaudit dua kali oleh BPKP di tahun 2024 dan dinyatakan tidak ada kerugian, tiba tiba dinyatakan menimbulkan kerugian 1.5T oleh BPKP di 2025 SETELAH saya dijadikan tersangka?,” tulisnya.
“Apakah masuk akal bahwa narasi berbulan bulan bahwa Chromebook tidak bisa digunakan di sekolah tiba tiba hilang dari dakwaan dan berubah menjadi Chromebook kemahalan? Kenapa bisa terjadi?,” tulis Nadiem.
“Apakah masuk akal narasi berbulan bulan mengenai WA Grup Mas Menteri yang membahas pengadaan Chromebook sebelum menjadi Menteri tiba tiba hilang dari dakwaan? Apakah karena tidak pernah ada?,” tulisnya.
“Terima kasih. Semoga publik bisa semakin bijak dalam menilai azas keadilan di negeri tercinta kami,” tulis Nadiem.
Diketahui setelah dua kali mengikuti persidangan, yaitu pada Senin (5/1/2026) dan Kamis (8/1/2026) Nadiem tidak diberikan kesempatan untuk berbicara di hadapan media.